Beranda Pemerintahan Bendungan Karian dan Pantura Jadi Prioritas Modifikasi Cuaca di Banten

Bendungan Karian dan Pantura Jadi Prioritas Modifikasi Cuaca di Banten

Plt BBMKG Wilayah II, Ana Oktavia Setiawati saat diwawancarai wartawan usai menyampaikan prediksi mengenai musim hujan di Banten yang mundur. Pertemuan digelar di Gedung Negara Banten, Rabu (7/10/2026).

SERANG– Wilayah Bendungan Karian di Kabupaten Lebak dan wilayah pantai utara (Pantura) Banten menjadi prioritas bila operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi kemarau panjang tahun ini. Kedua wilayah tersebut dipetakan sebagai kawasan yang menghadapi periode kemarau lebih panjang akibat musim hujan yang datang terlambat.

Rencana modifikasi cuaca itu mencuat setelah Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II menyampaikan prediksi musim hujan di wilayah utara Provinsi Banten baru masuk pada Desember 2026. Kondisi ini memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan ancaman kekeringan di sejumlah wilayah.

Plt Kepala BBMKG Wilayah II, Ana Oktavia Setiawati, mengatakan wilayah Pantura menjadi perhatian karena awal musim kemaraunya lebih lama, sementara musim hujannya diprediksi datang lebih lambat. Sedangkan Bendungan Kairan sempat menyusut airnya beberapa bulan lalu akibat kemarau.

“Salah satunya tadi itu Bendungan Karian, kemudian daerah Pantura. Karena musim kemarau awal musim kemaraunya duluan, tetapi awal musim hujannya terlambat. Nah, ini artinya dia paling panjang musim kemaraunya dibandingkan lokasi-lokasi yang lain,” kata Ana, usai pertemuan dengan Gubernur Banten di Gedung Negara Banten, Rabu (7/10/2026).

Menurut dia, kebutuhan air bersih di wilayah Banten bagian utara juga meningkat sehingga kawasan tersebut menjadi salah satu prioritas dalam penanganan dampak kemarau panjang.

Ana menuturkan, operasi modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu solusi untuk menambah cadangan air, termasuk mengisi waduk. Namun pelaksanaannya tidak dapat dilakukan setiap saat karena bergantung pada keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

“Iya, operasi modifikasi cuaca ini sebetulnya salah satu solusi untuk mengisi waduk. Tetapi ini perlu pertimbangan dan perhitungan yang cukup matang bersama pemerintah daerah untuk karena perlu ada status peningkatan status tanggap darurat dari pihak pemerintah daerah sehingga modifikasi operasi modifikasi cuaca itu bisa dilaksanakan dan juga penyiapan pendanaan untuk kegiatan tersebut, seperti itu.”

Baca Juga :  Minim Sosialisasi, Kenaikan Pajak Kendaraan Bermotor di Banten Dikeluhkan Warga

Modifikasi cuaca dilakukan dengan dua metode, yakni mempercepat terjadinya hujan dan mengurangi atau mengurai uap air yang terdapat di awan.

Dalam pelaksanaannya, metode untuk mempercepat hujan dilakukan dengan menyemai awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan. Penyemaian dilakukan dengan menyebarkan inti kondensasi berupa natrium klorida (NaCl) agar proses pembentukan hujan berlangsung lebih cepat.

“Kalau ada awan yang dilihat potensial untuk terjadinya hujan, maka dilakukan seeding atau penyebaran inti kondensasi yaitu NaCl sehingga mempercepat proses terjadinya hujan,” jelas Ana.

Hujan yang terbentuk melalui proses tersebut kemudian diharapkan turun di wilayah yang telah ditentukan sebagai sasaran modifikasi cuaca. Selain mempercepat pembentukan hujan, modifikasi cuaca juga dapat dilakukan dengan mengurangi atau mengurai uap air yang terdapat di dalam awan.

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan pihaknya masih akan mendiskusikan terlebih dahulu rencana modifikasi cuaca. Sejauh ini Pemprov Banten akaan memetakan risiko musim kemarau panjang untuk menyiapkan langkah mitigasi terhadap dampaknya, termasuk memastikan ketersediaan air bersih.
“Muncul satu diskusi terkait dengan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca), ya, terkait dengan rekayasa cuaca yang mana ini memerlukan kajian dan insyaallah BMKG akan siap membantu kita,” kata Andra.

Menurut Andra, pemerintah provinsi memiliki anggaran belanja tidak terduga yang dapat digunakan apabila hasil kajian menunjukkan operasi modifikasi cuaca diperlukan. Mengenai biaya, nominal pasti masih perlu didiskusikan.

“Dan dari sisi ketersediaan anggaran, insyaallah (anggaran) BTT (Belanja Tidak Terduga) kita juga tersedia, sehingga bilamana diperlukan melaksanakan rekayasa hujan, insyaallah kita bisa laksanakan,” ujarnya.

Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi