Beranda Pemerintahan BBMKG: Polusi Tangsel Akibat Kendaraan dan Industri Kecil, Bukan PLTU Suralaya

BBMKG: Polusi Tangsel Akibat Kendaraan dan Industri Kecil, Bukan PLTU Suralaya

Plt BBMKG Wilayah II, Ana Oktavia Setiawati saat diwawancarai wartawan. (Audindra/bantennews)

SERANG — Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II menyebut tingginya mobilitas kendaraan dan aktivitas industri kecil menjadi faktor yang memengaruhi buruknya kualitas udara di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kepadatan penduduk dan permukiman ikut memperbesar tekanan emisi di wilayah tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BBMKG Wilayah II, Ana Oktavia mengatakan, Tangsel memiliki mobilitas kendaraan yang tinggi karena berfungsi sebagai kota transit bagi pergerakan masyarakat dari Jakarta menuju Jawa Barat maupun sebaliknya.

“Berdasarkan kajian dan penelitian yang sudah ada memang Tangsel itu sangat dipengaruhi oleh mobilitas manusianya, karena itu kota transito. Yang dari Jakarta mau ke Jawa Barat itu pasti lewat Tangsel, begitu pun sebaliknya,” kata Ana, Kamis (8/10/2026).

Arus kendaraan yang padat meningkatkan konsentrasi emisi, terutama pada jam sibuk. Kondisi itu kemudian berpengaruh terhadap kualitas udara di Tangsel.

Kepadatan penduduk dan permukiman juga ikut memberi tekanan. Aktivitas masyarakat dan tingginya konsumsi energi di kawasan padat dapat meningkatkan beban emisi.

Selain kendaraan, Ana menyoroti aktivitas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan industri kecil. Menurutnya, sejumlah industri kecil di Tangsel cukup signifikan menyumbang emisi.

“Kemudian yang ketiga itu UMKM, industri kecil yang ada di sana itu cukup signifikan menyumbang kualitas udara yang buruk di Tangsel,” ujarnya.

Ana meminta pemerintah memperkuat pemetaan sumber pencemaran dengan memasang sensor kualitas udara di kawasan yang berpotensi menghasilkan emisi tinggi.

“Nah, ini perlu dilakukan kajian yang lebih intens dengan memasang sensor kualitas udara di areal yang potensial menyumbangkan polusi udara untuk wilayah Tangsel,” katanya.

Ana juga menepis dugaan yang mengaitkan buruknya kualitas udara Tangsel dengan emisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Kota Cilegon. BBMKG telah meneliti arah pergerakan partikel halus PM2.5 dari kawasan PLTU tersebut.

Baca Juga :  Warga Unyur Pertanyakan Walikota Serang Terkait Kelanjutan Jalur Frontage

Hasil penelitian BBMKG menunjukkan pergerakan PM2.5 dari Suralaya mengarah ke Jakarta, bukan Tangerang Selatan.

“Isu itu kemudian kan diteliti. Nah, hasil penelitian itu sebenarnya tidak relevan, karena memang tidak mengarah ke Tangsel,” tegas Ana.

Di sisi lain, keterbatasan alat pemantauan masih menjadi persoalan. Banten saat ini hanya memiliki empat alat pemantau kualitas udara milik Dinas Lingkungan Hidup. BMKG sendiri belum memiliki alat pemantau kualitas udara di Banten.

“Alat pemantauan udara itu masih terbatas, hanya ada empat di Banten milik DLH. Sementara dari BMKG belum ada,” katanya.

Ana menjelaskan, kondisi cuaca juga menentukan konsentrasi polutan. Hujan dan angin kencang dapat menurunkan konsentrasi polutan, sedangkan angin lemah dan minim hujan membuat polutan bertahan serta menumpuk di suatu wilayah.

BBMKG mencatat Tangsel pernah mengalami kualitas udara sangat buruk saat fenomena El Nino pada 2023. Berdasarkan histori pemantauan BBMKG, kualitas udara Tangsel ketika itu bahkan tercatat lebih buruk dibandingkan Jakarta.

“Hasil monitoring dan kita lihat berdasarkan histori dari tahun 2023, pada saat El Nino posisinya sangat kuat, jadi kualitas udara di Tangsel itu predikatnya terburuk se-Indonesia. Bahkan lebih buruk dari Jakarta,” kata Ana.

Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd