Beranda Peristiwa Banyak Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan, Psikolog Sebut Pandeglang Alami Degradasi Moral

Banyak Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan, Psikolog Sebut Pandeglang Alami Degradasi Moral

Psikolog asal Kabupaten Pandeglang, Rika Kartika Sari (kanan), saat memberikan keterangan kepada wartawan.

PANDEGLANG – Psikolog asal Kabupaten Pandeglang, Rika Kartika Sari, angkat bicara terkait maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Pandeglang. Sejumlah kasus bahkan melibatkan orang tua kandung sebagai pelaku.

Perempuan yang juga menjabat sebagai anggota Komisi III DPRD Banten itu mengaku mengikuti dan terlibat langsung dalam penanganan beberapa kasus yang terjadi di Pandeglang. Dari sejumlah kasus yang ditanganinya, beberapa di antaranya melibatkan orang tua kandung sebagai pelaku.

Menurut Rika, pada tahun 2026 terjadi tren kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh anggota keluarga, terutama ayah kandung. Salah satunya terjadi di Kecamatan Jiput yang menimpa dua anak sebagai korban dan ayah kandung sebagai pelaku.

“Memang tren tahun 2026 kasus seperti ini dilakukan oleh anggota keluarga, terutama ayah kandung. Kasus yang terjadi di salah satu kecamatan di Pandeglang itu merupakan contoh. Bahkan pada Mei lalu ada korban yang sampai melahirkan. Menurut saya ini merupakan degradasi moral. Ayah yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi sosok yang berbahaya bagi anaknya,” kata Rika, Kamis (18/6/2026).

Untuk mencegah kasus serupa terulang, Rika menilai diperlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk tokoh agama yang dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pola pengasuhan yang tepat ketika anak perempuan mulai beranjak dewasa.

Selain itu, pemerintah daerah juga dinilai perlu hadir melalui pembentukan lembaga khusus yang bertugas mengedukasi keluarga tentang cara menciptakan lingkungan rumah tangga yang aman dan ramah bagi perempuan serta anak.

“Peran tokoh agama sangat penting untuk menjelaskan bahwa perilaku seperti ini tidak dapat dibenarkan. Selain itu, keberadaan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) juga menjadi penting. Di Kabupaten Pandeglang, Puspaga belum terbentuk. Bulan lalu pembahasannya sudah dilakukan di dinas terkait dan saya berharap segera terealisasi agar kader dapat melakukan sosialisasi dari rumah ke rumah tentang bagaimana menciptakan keluarga yang aman,” tegasnya.

Baca Juga :  Kendaraan Bak Terbuka Terbakar di Pintu Tol Rangkasbitung

Dari sudut pandang psikologis, Rika menilai tindakan ayah kandung yang melakukan kekerasan seksual terhadap anaknya merupakan perbuatan yang sangat keji dan dapat mengindikasikan adanya gangguan mental.

Karena itu, dalam waktu dekat pihaknya bersama tim dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) akan turun langsung ke lokasi untuk memberikan pendampingan kepada korban dan keluarganya.

“Dilihat dari perspektif psikologis, ketika seorang ayah melakukan hal tersebut kepada anaknya, berarti ada indikasi gangguan mental. Minggu depan kami akan turun ke lokasi bersama tim UPT untuk memberikan pendampingan kepada keluarga maupun korban,” ujarnya.

Rika juga mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang aman melalui keterbukaan komunikasi antara orang tua dan anak. Menurutnya, orang tua harus menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk bercerita.

“Yang paling mudah adalah membangun keterbukaan. Sering kali anak yang menjadi korban tidak langsung bercerita sehingga peristiwa itu terus berulang dan pelaku merasa aman karena tidak dilaporkan. Harus ada sistem keterbukaan, di mana ayah dan ibu menjadi tempat yang dipercaya anak untuk bercerita,” ungkapnya.

Namun demikian, ia menilai masih banyak orang tua yang kurang meluangkan waktu bersama anak karena lebih sibuk dengan aktivitas masing-masing, termasuk penggunaan media sosial dan telepon genggam.

“Masalahnya, ketika anak ingin bercerita, ibunya sibuk bermain media sosial dan ayahnya sibuk dengan telepon genggam. Akhirnya anak mengurungkan niat untuk bercerita. Quality time sangat berpengaruh. Jika terjadi sesuatu dengan ayahnya, anak masih bisa bercerita kepada ibunya, begitu pula sebaliknya,” tutupnya.

Penulis: Memed
Editor: Usman Temposo