Dari Debus ke Digital: Modernisasi dan Transformasi Budaya Masyarakat Banten

Debus sebagai warisan budaya khas Banten telah lama menjadi simbol identitas masyarakat setempat. Atraksi seni yang melibatkan unsur ekstrem seperti berjalan di atas pecahan kaca atau menusuk tubuh dengan benda tajam ini bukan sekadar hiburan, tetapi cerminan nilai spiritual dan keberanian yang diwariskan turun-temurun.

Di era serba digital saat ini, perubahan dalam cara masyarakat mengakses dan menikmati budaya menjadi keniscayaan. Transformasi ini tidak perlu ditakuti, justru dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan debus ke audiens yang lebih luas.

Perkembangan teknologi digital membuka ruang besar bagi perluasan jangkauan budaya Banten. Pertunjukan yang sebelumnya hanya dapat disaksikan pada momen atau acara tertentu, kini bisa direkam, didokumentasikan, dan dibagikan melalui media sosial serta berbagai platform digital.

Hanya dengan ponsel, siapa pun dapat menonton kapan saja dan di mana saja. Komunitas seni di Banten pun mulai memanfaatkan YouTube, Instagram, hingga pelatihan daring untuk mengenalkan debus kepada generasi muda, lengkap dengan sejarah, nilai-nilai, dan filosofi yang menyertainya. Modernisasi ini tidak mengurangi esensi budaya, tetapi memperkaya metode penyampaian sehingga debus dapat tetap hidup dan relevan dalam arus globalisasi.

Namun, kemajuan tersebut hadir bersama tantangan. Digitalisasi yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menggerus nilai asli debus. Komersialisasi berlebihan yang hanya menjadikan debus sebagai konten viral dapat menghilangkan makna spiritualnya dan mereduksinya menjadi hiburan instan.

Di sisi lain, generasi muda yang lebih dekat dengan dunia digital mungkin tidak lagi memahami konteks ritual dan filosofis di balik pertunjukan debus, sehingga identitas budaya berisiko memudar. Karena itu, peran masyarakat, komunitas seni, akademisi, dan pemerintah menjadi krusial dalam memastikan proses digitalisasi tetap berorientasi pada pelestarian budaya.

Pada akhirnya, perjalanan debus menuju era digital membuktikan bahwa modernisasi bukan ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat masa depan budaya Banten.

Dengan kolaborasi antara para pelaku seni tradisional dan komunitas digital, harmoni antara warisan leluhur dan inovasi dapat tercipta. Transformasi ini perlu disambut dengan semangat agar budaya Banten tetap tumbuh, berkembang, dan memberi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.

Penulis: Ina Rosalia
Dosen Pembimbing: Angga Rodisin, S.IP., M.A.P
Ketua Program Studi: Zakaria Habib Ar-Razie, S.IP., M.Sos
Program Studi Administrasi Negara
Universitas Pamulang Kampus Serang

 

Bagikan Artikel Ini