Author: Nona Tarie

Bencana di Sumatra: Bukan Lagi Sekedar Musibah Alam

Di penghujung November 2025, Pulau Sumatra diselimuti duka mendalam. Banjir bandang dan longsor dahsyat melanda Aceh, Sumatra Utara, serta Sumatra Barat secara serentak. Bencana ini menelan lebih dari 1.140 korban jiwa dan memaksa sekitar 3,3 juta warga mengungsi. Hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar memang menjadi pemicu langsung, namun skala kehancuran yang terjadi menunjukkan persoalan yang jauh lebih kompleks. Tragedi Sumatra bukan sekadar musibah alam, melainkan cerminan kerusakan ekosistem yang masif serta kegagalan tata kelola pembangunan yang mengabaikan risiko bencana. Data terbaru memperlihatkan betapa seriusnya dampak yang ditimbulkan. Di Sumatra Utara, sedikitnya 370 orang meninggal dunia, 43 orang dinyatakan hilang, dan sekitar 13.900 warga terpaksa mengungsi. Di Sumatra Barat, tercatat 262 orang meninggal dunia, 74 orang hilang, dan 10.851 warga mengungsi. Secara keseluruhan, media nasional mencatat jumlah korban meninggal akibat bencana di wilayah Sumatra telah melampaui seribu orang. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari hilangnya nyawa, runtuhnya keluarga, serta hancurnya tatanan sosial masyarakat. Kerusakan Ekosistem Hulu DAS Kerusakan hutan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi faktor krusial yang memperparah banjir bandang dan longsor. Pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan telah menurunkan kemampuan tanah dalam menyerap air secara signifikan. Akademisi Universitas Gadjah Mada menegaskan bahwa alih fungsi lahan yang tidak terkendali serta konversi hutan menjadi kawasan produktif telah menghilangkan tutupan vegetasi yang seharusnya berfungsi menahan air dan mencegah longsor. Akibatnya, curah hujan ekstrem yang seharusnya terdistribusi secara bertahap justru langsung mengalir ke sungai dalam waktu singkat, memicu luapan besar. Ketika kondisi ini berpadu dengan faktor alam seperti Siklon Tropis Senyar, dampak bencana pun meluas dan menghantam jutaan penduduk di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Lemahnya Respons Pemerintah Peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi bibit siklon sebenarnya telah disampaikan beberapa hari sebelum bencana terjadi. Namun, baik pemerintah pusat maupun daerah dinilai gagal menerjemahkan peringatan tersebut menjadi langkah konkret, seperti evakuasi dini berskala besar dan penyediaan logistik darurat. Status darurat nasional baru ditetapkan setelah jumlah korban mencapai ratusan orang. Keterlambatan ini berdampak langsung pada lambannya distribusi bantuan. Di sejumlah wilayah terpencil, para pengungsi mengalami kekurangan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan hingga berminggu-minggu. Situasi tersebut semakin diperburuk oleh pernyataan sejumlah pejabat yang dinilai minim empati, sehingga memperkuat persepsi publik bahwa Sumatra masih belum menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Krisis Kebijakan Ekologis Jangka Panjang Pola pembangunan yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam—terutama melalui perizinan perkebunan sawit dan pertambangan—telah lama mengabaikan kapasitas lingkungan. Praktik ini membentuk jejak panjang ekspansi ekonomi yang meninggalkan wilayah dengan kerentanan bencana yang tinggi dan berulang. Dalam perspektif ekoteologi, kondisi ini mencerminkan krisis etika: alam dieksploitasi demi keuntungan segelintir pihak, sementara masyarakat miskin di wilayah pedalaman harus menanggung risiko kehilangan nyawa dan mata pencaharian. Tanpa moratorium perizinan di kawasan rawan bencana serta pembenahan mendasar terhadap regulasi kehutanan dan tata ruang, ancaman bencana serupa akan terus menghantui dan memperdalam ketimpangan keadilan sosial antarwilayah. Kesimpulan dan Rekomendasi Berdasarkan uraian di atas, bencana yang berulang di Sumatra tidak dapat lagi dipahami semata-mata sebagai fenomena alam. Tingginya intensitas bencana dan besarnya jumlah korban jiwa menunjukkan adanya persoalan struktural yang bersumber dari lemahnya tata kelola lingkungan, kerusakan ekosistem hulu DAS, serta kebijakan pembangunan yang abai terhadap daya dukung alam. Kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan memperparah risiko banjir dan longsor, sementara respons pemerintah yang lamban dan tidak terkoordinasi memperbesar dampak kemanusiaan. Di sisi lain, orientasi kebijakan ekologis jangka panjang yang masih menempatkan eksploitasi sumber daya alam sebagai prioritas utama telah menciptakan kerentanan yang sistemik. Tragedi Sumatra 2025 tidak boleh berlalu tanpa pembelajaran. Pertama, pemerintah pusat dan daerah harus melakukan pembenahan serius terhadap tata kelola lingkungan dengan menghentikan alih fungsi lahan di kawasan hulu DAS serta menerapkan moratorium perizinan perkebunan dan pertambangan di wilayah rawan bencana. Rehabilitasi hutan dan pemulihan ekosistem harus menjadi prioritas kebijakan jangka panjang. Kedua, sistem mitigasi dan respons kebencanaan perlu diperkuat melalui optimalisasi peringatan dini, peningkatan kapasitas pemerintah daerah, serta penyusunan skema evakuasi dan logistik yang cepat dan inklusif, khususnya bagi masyarakat di wilayah terpencil. Koordinasi antarlembaga harus dilakukan sebelum bencana terjadi, bukan setelah korban berjatuhan. Ketiga, diperlukan perubahan paradigma pembangunan yang tidak semata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keadilan ekologis dan perlindungan terhadap kelompok masyarakat rentan. Pendekatan etis dalam pengelolaan sumber daya alam harus diintegrasikan ke dalam kebijakan publik agar pembangunan tidak lagi menjadi sumber penderitaan, melainkan sarana untuk menjamin keselamatan dan keberlanjutan hidup masyarakat Sumatra. Penulis: Bidadari Nona Tarie | 241092150023  

Opini Publik “Menghidupkan Semangat Pancasila: Kunci untuk Membangun Indonesia yang Lebih Baik”

Pernahkah kalian berpikir jika kehidupan sehari-hari tanpa landasan nilai-nilai Pancasila? Mulai dari buang sampah sembarangan, berbicara dan berperilaku kasar, menghukum seseorang secara sepihak (main hakim sendiri), penistaan agama, pembegalan dan pelecehan. Hal tersebut karena kurangnya menanamkan nilai-nilai Pancasila. Bukan hanya itu saja, tetapi tanpa kita sadari arus globalisasi dan media sosial termasuk salah satu dampak kita semakin jauh dari nilai-nilai Pancasila, Oleh karena itu sangat penting bagi kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila untuk mencegah tindakan diskriminatif dan sebagai kunci untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Menghidupkan Semangat Pancasila Pancasila, yang berarti lima asas sebagai  ideologi negara Indonesia, yang menjadi landasan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila, yang pertama kita harus memahami setiap sila yang terkandug lalu menerapkan prinsip-prinsip Pancasila tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan begitu ketika globalisasi telah banyak merubah segalanya dan mengakibatkan masyarakat terutama generasi muda menjadi jauh dari nilai-nilai Pancasila. Disinilah rasa semangat kita tergerakan untuk mengembalikan nilai-nilai Pancasila. Peran keluarga, pendidikan, dan organisasi pemuda Pancasila juga penting dalam menghidupkan nilai Pancasila dalam mempromosikan nilai-nilai seperti toleransi, keadilan, dan kesetaraan. Kita juga harus berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan dan memastikan bahwa hak-hak asasi manusia dihormati dan dilindungi. Ingat, Indonesia dikenal akan ideologi Pancasilanya bahkan telah menjadi inspirasi bagi banyak negara dalam menjaga kerukunan dan perdamaian. Harusnya itu menjadi motivasi kita dalam menjaga dan memegang teguh nilai Pancasila sebagai pedoman agar tetap terjaga nilai-nilai Pancasila di era globalisasi dan relevan, bukan hanya sekedar menjaga saja tetapi sudah menjadi kewajiban kita sebagai warga negara dan kita pun akan merasakan manfaatnya juga. Manfaat Menghidupkan Pancasila Menghidupkan nilai-nilai Pancasila tidak hanya memberikan kedamaian, tetapi dapat memberikan banyak manfaat bagi individu, masyarakat, dan negara. Yukk simak manfaat yang dapat diperoleh: Manfaat bagi Individu 1. Meningkatkan kesadaran moral dan etika: Menghidupkan nilai-nilai Pancasila dapat membantu individu memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. 2. Meningkatkan rasa tanggung jawab: Menghidupkan nilai-nilai Pancasila dapat membantu individu memahami dan mengambil tanggung jawab atas tindakan dan keputusannya. 3. Meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban: Menghidupkan nilai-nilai Pancasila dapat membantu individu memahami dan menghormati hak-hak orang lain serta memenuhi kewajibannya. Manfaat bagi Masyarakat 1. Meningkatkan kesatuan dan kebersamaan: Menghidupkan nilai-nilai Pancasila dapat membantu masyarakat memahami dan menghargai perbedaan serta meningkatkan kesatuan dan kebersamaan. 2. Meningkatkan keadilan dan kesetaraan: Menghidupkan nilai-nilai Pancasila dapat membantu masyarakat memahami dan menghargai keadilan dan kesetaraan dalam semua aspek kehidupan. 3. Meningkatkan kualitas hidup: Menghidupkan nilai-nilai Pancasila dapat membantu masyarakat meningkatkan kualitas hidup dengan menghargai dan mengaplikasikan nilai-nilai moral dan etika. Ayoo semangat jadikan Indonesia harmonis, damai, dan sejahtera. Penulis : bidadari Nona Tarie