Author: Marufah

Peran Literasi Digital dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi di Indonesia

Di era digital saat ini, masyarakat Indonesia semakin bergantung pada teknologi dalam memperoleh informasi. Media sosial, portal berita online, dan berbagai platform digital telah menjadi sumber utama informasi publik. Informasi kini menyebar dengan sangat cepat, bahkan dalam hitungan detik. Namun, derasnya arus informasi tersebut tidak selalu diikuti dengan kemampuan masyarakat untuk menyaring, menilai, dan memahami kebenaran informasi yang diterima. Di sinilah literasi digital memegang peranan penting dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia. Literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gawai atau aplikasi. Lebih dari itu, literasi digital mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami konteks informasi, serta menilai kredibilitas sumber. Masyarakat yang literat secara digital akan mampu membedakan informasi yang bersifat faktual, opini, maupun hoaks atau propaganda. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat sangat rentan terpengaruh oleh provokasi, ujaran kebencian, serta disinformasi yang sengaja diproduksi untuk membentuk opini publik. Kondisi ini berpotensi menimbulkan polarisasi sosial dan politik yang tajam, yang pada akhirnya melemahkan tatanan demokrasi. Padahal, demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar, bukan berdasarkan manipulasi atau sentimen sesaat. Dampak Rendahnya Literasi Digital Rendahnya tingkat literasi digital dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain: Meningkatnya penyebaran hoaks dan disinformasi, karena masyarakat cenderung langsung mempercayai dan menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi. Polarisasi masyarakat, terutama dalam isu politik dan sosial, yang memicu perpecahan. Menurunnya kepercayaan terhadap institusi, baik lembaga negara, media massa, maupun tokoh publik akibat gempuran informasi palsu. Manipulasi opini publik, di mana pihak tertentu memanfaatkan media digital untuk kepentingan politik atau ekonomi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, demokrasi hanya akan berjalan secara prosedural, namun kehilangan substansinya sebagai sistem yang menempatkan rakyat sebagai subjek yang sadar, kritis, dan rasional. Peran Pemerintah, Pendidikan, dan Media Massa Upaya meningkatkan literasi digital tidak dapat dibebankan kepada individu semata. Diperlukan peran aktif dari berbagai pihak, antara lain: 1. Pemerintah Pemerintah perlu memperkuat kebijakan pendidikan dan regulasi yang berorientasi pada peningkatan literasi digital. Program edukasi publik, sosialisasi bahaya hoaks, serta peningkatan transparansi informasi harus dilakukan secara konsisten. Selain itu, pengawasan terhadap konten digital yang berpotensi merusak persatuan bangsa perlu dilakukan secara proporsional tanpa mengurangi kebebasan berekspresi. 2. Lembaga Pendidikan Sekolah dan perguruan tinggi merupakan ruang strategis dalam membangun budaya berpikir kritis. Literasi digital perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum, tidak hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi juga sebagai pembentukan karakter dan etika bermedia. Peserta didik harus dilatih untuk memverifikasi informasi, memahami bias sumber, serta bertanggung jawab atas jejak digital yang ditinggalkan. 3. Media Massa Media massa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kredibilitas dan akurasi pemberitaan. Di tengah persaingan kecepatan informasi, media tidak boleh mengorbankan prinsip verifikasi. Media yang profesional justru menjadi benteng terakhir bagi masyarakat dalam memperoleh informasi yang dapat dipercaya. Peran Masyarakat dalam Ruang Digital Pada akhirnya, masyarakat sebagai pengguna media digital harus memiliki kesadaran untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Sikap skeptis yang sehat, kebiasaan membaca dari berbagai sumber, serta kemampuan berdiskusi secara terbuka tanpa terjebak fanatisme merupakan bagian penting dari literasi digital. Selain itu, kebebasan berekspresi di ruang digital juga memiliki batasan. Menghormati perbedaan pendapat dan menjaga etika berkomunikasi menjadi kunci agar ruang digital tetap menjadi ruang demokrasi yang inklusif dan sehat. Penutup Dengan literasi digital yang baik, demokrasi Indonesia akan semakin matang. Partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi akan didasarkan pada informasi yang benar dan akurat, bukan pada manipulasi atau sentimen sesaat. Literasi digital bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan utama di tengah pesatnya transformasi digital. Pada akhirnya, literasi digital merupakan fondasi bagi terciptanya masyarakat yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab dalam kehidupan berdemokrasi. Demokrasi yang berkualitas hanya dapat terwujud apabila warganya memiliki kesadaran informasi dan kemampuan berpikir kritis yang kuat. Penulis: Ma’rufah Dosen Pembimbing: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P. Kepala Program Studi: Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos. Program Studi Administrasi Negara Universitas Pamulang, Serang