Seiring perkembangan zaman, kini perkembangan teknologi sangat berkembang pesat terutama pada teknologi pendidikan. Kemajuan teknologi ini juga melibatkan berbagai pihak, baik guru maupun peserta didik. Dengan perkembangan yang sangat pesat diharapkan semua pihak juga mampu ikut serta memanfaatkan kemajuan digital tersebut. Ini menjadi tantangan bersama bagi semua orang, untuk menjadikan digital sebagai hal positif dalam semua lini. Sastra dalam dunia digital adalah sebuah realitas yang harus dijadikan hal positif. Sastra ini berkaitan erat dengan konten-konten dalam media sosial (medsos), Youtube, Twitter, Instagram, dan lainnya. Para anak muda dihadapkan juga pada budaya membaca, khususnya membaca karya sastra. Kebiasaan baik membaca atau literasi merupakan kebiasaan yang sangat bermanfaat untuk berbagai hal. Segala pengetahuan baik itu perkembangan wawasan, penguasaan kosa kata, dan penyerapan gaya menulis bisa didapatkan secara langsung dan tidak langsung melalui membaca. Beberapa waktu silam, orang-orang dapat membaca novel atau cerpen secara intens dan bahkan ada yang dijuluki “kutu buku”. Mereka tidak malu membaca dan membawa novel atau buku teks ratusan halaman selama berhari-hari atau berminggu-minggu dan mereka selalu membawa buku kemana mereka pergi. Di zaman sekarang, kebiasaan itu malah berbanding terbalik dan mulai berubah. Generasi milenial saat ini sudah jarang membaca surat kabar, novel, atau buku-buku teks yang tebal-tebal. Mereka memang masih membaca, namun sumber bacaan sebagian besar berasal dari gawainya. Jadi karya sastra, puisi-puisi dari beberapa penyair, diolah petikan puisinya menjadi sebuah puisi yang sangat relevan dengan kondisi saat ini, dan mebuat orang merasa terkait. Sementara bagi orang pecinta sastra, pasti tahu petikan puisi itu karya Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, atau Subagio Sastrowardoyo. Sepenggalan puisi karya Sapardi Djoko,yaitu pemilihan kata yang sederhana, namun memiliki makna yang mendalam. Butuh berapa kali pengulangan untuk bisa memahami kata-kata sang maestro walaupun sebenarnya ia bilang bahwa puisi bukan untuk dipahami, tapi dihayati. Dalam puisinya, ia seringkali menggunakan nuansa alam untuk menghidupkan kata demi kata. Hujan, alam, daun, bunga, pagi, dan malam tak lepas dari perhatiannya sebagai inspirasi. Ia katakan: “Perkara alam, zaman dulu memang tidak ada apa-apa kan? Saya kenal alam di situ, karena tempat tinggal saya di desa dan keluar masuk kampung bersama seorang teman yang akrab pada masa dulu. Jadi saya betul-betul memerhatikan alam.” Selain itu juga dari karya-karya yang di cetak menjadi sebuah buku seperti novel Ketika Cinta Jadi Nyata (When It’s Real) karya Erin Watt yang berdasarkan dari temanya beragam dan menarik, sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini. Dari segi bentuk rata rata cerita fiksi yang digabungkan dengan realita kehidupan, seperti keluarga, percintaan, persahabatan, dan lain-lain. Adapun juga karya-karya cerpen dimuat di digital itu lebih banyak menyangkut peristiwa yang berhubungan dengan kejadian nyata dan kejadian terbaru. Hal ini karena mengikuti tren yang terjadi, sekaligus karena cerpen digital lebih mudah dijangkau oleh semua orang pengguna internet, dibanding erpen-cerpen cetak. Sesungguhnya perbedaan antara sastra cetak dan sastra digital itu hanya pada penggunaan medianya saja. Ukuran atau kriteria yang ditetapkan sebagai barometer sastra itu sama. Masalahnya, sastra digital tidak mengenal penjaga gawang bernama redaktur atau editor yang berhak meloloskan karyanya atau tidak. Berbeda dengan sastra cetak yang harus berhadapan dengan otoritas redaktur, bahkan bukan tidak mungkin harus sesuai dengan misi penerbit media massa atau buku. Akan tetapi, bukan tidak mungkin kita menemukan teks-teks yang berkualitas dalam sastra digital, bahkan melebihi karya-karya yang dimuat di media cetak. Memang, berbeda dengan sastra cetak, pada sastra digital para pembacanya bisa langsung memberikan penilaian dan komentar terhadap teks atau karya yang diunggah. Tentu saja hal ini merupakan fenomena menarik, meskipun harus diakui, di tengah konsumen sastra yang beragam itu tidak semua komentar mereka bermutu, bahkan banyak juga yang dangkal tanpa perenungan. Selain itu, dalam sastra digital memungkinkan para sastrawan mengunggah karya dalam bentuk audio-visual, misalnya video pembacaan puisi atau cerpen, ceramah sastra, dan sebagainya. Ada satu hal yang patut dicatat kalau kita berbicara tentang sastra digital, yaitu soal penggunaan bahasa Indonesia. Karena sering kita temukan teks-teks yang mereka unggah tidak memakai kaidah baku dalam bahasa Indonesia. Hal itu terjadi mungkin karena penulisannya dilakukan tergesa-gesa karena ingin segera diunggah secara daring. Penggunaan bahasa Indonesia dalam sastra digital sering memuat akronim, simbol emosikon dengan kalimat singkat. Penggunaan simbol emosikon barangkali dianggap lebih efektif untuk mengungkapkan perasaan, baik kegembiraan, kesedihan, dan lain sebagainya. Ada pendapat yang menyatakan bahwa karya sastra digital tidak berkualitas dibanding karya sastra cetak (koran, majalah maupun buku). Namun ada pula yang berpendapat bahwa karya sastra digital harus diperlakukan dengan adil, karena ini adalah dunia baru sebagai alternative bagi para sastrawan untuk mengungkapkan ide-ide, perasaan-perasaan, pemikiran-pemikiran, dan tanggapan-tanggapan mereka.
Bahasa adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan yang lainnya menggunakan sebuah tanda, kata, atau gerakan. Bahasa gaul bisa diartikan sebagai anak alay atau anak lebay, alay adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah perilaku remaja di Indonesia. Istilah ini merupakan stereotip yang menggambarkan gaya hidup yang dianggap norak dan kampungan. Alay juga merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan dan selalu berusaha menarik perhatian. Anak lebay tersebut memiliki bahasa khas para kalangannya (kata-katanya diubah-ubah sedemikian rupa, sehingga hanya bisa dimengerti oleh di antara mereka saja) bisa dipahami oleh hampir seluruh remaja di Indonesia. Bahasa gaul ini juga dapat berkembang karena beberapa faktor lainnya, seperti media sosial, televisi, radio, dan dapat juga karena faktor lingkungan sekitarnya. Televisi banyak menayangkan atau menyajikan beberapa program-program yang menampilkan kealayan mengguna bahasa tersebut yaitu bahasa gaul. Sehingga remaja mengekspresikan bahasa gaul melalui media sosial. Oleh karena itu bahasa gaul berkembang dengan cepat dan dapat memengaruhi bahasa Indonesia. Sudah menjadi tanggung jawab yang paling utama bagi pemerintah untuk mencegah televisi dari menampilkan sebuah acara televisi yang menggunkan bahasa yang tidak baku, ataupun bisa disebut bahasa alay (lebay). Dan para orang tua di rumah harus membimbing putra putrinya agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Berbahasa pun sangat erat dalam kaitannya dengan budaya sebuah generasi. Kalau generasi muda di negeri ini kian tenggelam dalam pudarnya bahasa Indonesia yang lebih dalam, mungkin saja bahasa Indonesia akan makin sempoyongan dan memanggul bebannya sebagai bahasa nasional dan identitas bangsa. Dalam kondisi seperti ini, oleh karena itu diperlukan sebuah pembinaan dan belajar sejak dini kepada generasi muda agar mereka tidak mengikuti hal buruk itu. Memengaruhi dalam arus globalisasi dalam identitas bangsa tercermin pada perilaku masyarakat yang mulai meninggalkan bahasa Indonesia dan terbiasa menggunakan bahasa gaul. Saat ini telah jaelas di masyrakat sudah banyak adanya penggunaan bahasa gaul dan hal ini diperparah lagi dengan genarasi muda Indonesia juga tidak terlepas dari pemakaian bahasa gaul. Bahkan, generasi inilah yang paling banayk menggunakan dan menciptakan bahasa-bahasa gaul lainnya di masyarakat.