Oleh: Dani Sahali (Pemerhati Kebijakan Publik) CILEGON – Musim hujan yang menyapa Kota Cilegon belakangan ini bukan sekadar rutinitas iklim, melainkan sebuah pesan penting tentang arah pembangunan kita ke depan. Munculnya genangan di sejumlah titik strategis merupakan alarm bahwa sebagai kota industri yang tumbuh masif, Cilegon memerlukan sebuah lompatan besar dalam tata kelola air yang tidak hanya reaktif, tetapi visioner. Langkah Pemerintah Kota Cilegon di bawah kepemimpinan Robinsar-Fajar yang tengah memperluas distribusi air melalui jaringan pipa PDAM ke wilayah Pulo Merak patut diberikan apresiasi tinggi. Ini adalah langkah nyata dalam menjawab kebutuhan dasar warga. Namun, jika kita menilik lebih dalam, pembangunan pipa ini barulah satu fase. Tantangan besarnya adalah: bagaimana Cilegon mampu berdaulat atas sumber airnya sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada skema air pasokan dari pihak ketiga. Menagih “DNA” Visioner Bapak Pembangunan (H.Tb. Aat Syafa’at) Dalam konteks inilah, kita perlu kembali menengok dan menggaungkan semangat kepemimpinan sang “Bapak Pembangunan” Cilegon, almarhum H. Tb. Aat Syafa’at. Beliau bukan sekadar membangun fisik, tetapi membangun martabat kota melalui keputusan-keputusan strategis yang melampaui zaman. Ketika Jalan Lingkar Selatan (JLS) digagas di tengah keterbatasan fiskal masa lalu, banyak yang meragukannya. Namun, visi jauh ke depan dari Aat Syafa’at membuktikan bahwa infrastruktur strategis adalah kunci kemandirian ekonomi. Begitu pula dengan gagasan Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM); sebuah pernyataan tegas bahwa Cilegon tidak boleh hanya menjadi penonton di rumah sendiri, tetapi harus menjadi pengelola sumber dayanya secara berdaulat. Semangat visioner itulah yang kini harus kita suntikkan kembali dalam pengelolaan air. Jika dulu kita bisa membangun jalan lingkar yang megah untuk konektivitas, kini saatnya Cilegon membangun “Kedaulatan Air” yang tangguh. Kita ingin melihat pipa-pipa yang kini menjalar ke Pulo Merak kelak tidak lagi sekadar menyalurkan air yang dibeli dari pihak luar, melainkan mengalirkan air hasil produksi mandiri dari bumi Cilegon sendiri. Integrasi WTP: Mengubah Bencana Menjadi Kedaulatan Inspirasi dari ketokohan Aat Syafa’at harus ditransformasikan ke dalam solusi teknis yang berani. Cilegon membutuhkan pembangunan Water Treatment Plant (WTP) skala besar yang terintegrasi dengan sistem drainase makro dan kolam retensi. Ini adalah solusi dua arah yang cerdas: Pengendalian Banjir: Air hujan tidak lagi dianggap sebagai “musuh” yang harus dibuang cepat-cepat ke laut, melainkan ditangkap di embung-embung kota sebagai cadangan strategis. Kemandirian Air: Melalui WTP, air limpasan yang tadinya menyebabkan banjir diolah menjadi air baku berkualitas tinggi. Inilah yang akan mengisi pipa-pipa PDAM kita. Kedaulatan Daerah: Dengan memproduksi air baku sendiri, PDAM Cilegon akan memiliki kemandirian penuh dan tidak lagi bergantung pada kuota atau skema penyediaan dari pihak lain. Kesimpulan: Melampaui Sekadar Penyaluran Kita mendukung penuh perluasan infrastruktur pipa PDAM yang sedang berjalan, namun kita mendorong agar langkah ini dibarengi dengan visi pembangunan sumber air baku yang mandiri. Membiarkan daerah terus bergantung pada pihak luar untuk kebutuhan air bersih adalah risiko strategis bagi masa depan kota industri ini. Mari kita warisi keberanian visi Tb. Aat Syafa’at. Cilegon harus berani bertransformasi menjadi “kota produsen yang berdaulat atas airnya sendiri. Hujan harus menjadi berkah sumber daya, bukan ancaman genangan. Saatnya kita menyempurnakan infrastruktur pipa dengan kedaulatan sumber air, demi masa depan Cilegon yang tangguh dan mandiri secara paripurna.