Sampah di Sekitar Flyover Ciputat: Masalah Lama yang Tak Kunjung Beres

Pantauan Saya Di Lokasi, Senin (05/01/2026) sampah mulai terlihat kembali di titik awal fly over mengarah ke Ciputat timur.tumpukan sampah tersebut masih terlihat di sekitaran trotoar fly over Pamulang sampai saat ini.

Persoalan sampah kembali pemandangan sehari-hari di sekitar Flyover Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Tumpukan sampah di tepi jalan dan ruang publik bukan sekadar soal kebersihan, melainkan cermin persoalan tata kelola perkotaan yang belum tertangani secara tuntas. Lokasi ini berada di jalur padat aktivitas, sehingga keberadaan sampah sangat mencolok dan berdampak langsung pada kenyamanan serta kesehatan warga.

Penumpukan sampah di kawasan Ciputat tidak terjadi tanpa sebab. Gangguan operasional pengelolaan sampah di Kota Tangerang Selatan, termasuk keterbatasan kapasitas TPA Cipeucang dan terganggunya proses pengangkutan, membuat sampah kerap terlambat diangkut

Ketika sistem tersendat, ruang-ruang publik seperti area dekat flyover kerap menjadi “tempat singgah” sampah sementara yang justru berubah menjadi permanen.

Masalah ini diperparah oleh tingginya volume sampah harian yang tidak sebanding dengan kapasitas pengangkutan. Dalam kondisi tertentu, warga dan pelaku aktivitas sekitar memilih membuang sampah di lokasi terdekat ketika TPS penuh atau layanan angkut terlambat. Akibatnya, persoalan teknis berubah menjadi persoalan sosial dan lingkungan.

Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah. Pendekatan tunggal terbukti

tidak efektif menghadapi kompleksitas persoalan di lapangan. Diperlukan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, dan media secara konsisten.

Pemerintah daerah memegang peran penting dalam memastikan sistem pengangkutan dan pengelolaan sampah berjalan stabil. Namun, tanpa pengawasan berkelanjutan dan dukungan aktor lain, upaya tersebut mudah kembali melemah. Masyarakat sekitar Ciputat juga memiliki tanggung jawab besar melalui perubahan perilaku, terutama dalam membuang dan memilah sampah dari sumbernya.

Akademisi dan pakar lingkungan dapat berkontribusi melalui kajian berbasis data untuk membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Sementara

itu, sektor swasta—terutama pelaku usaha di sekitar kawasan flyover—dapat mengambil peran melalui program tanggung jawab sosial yang fokus pada penyediaan fasilitas kebersihan dan penataan ruang publik. Media massa berperan sebagai pengawas sosial, menjaga agar isu sampah tidak hilang dari perhatian publik.

Ke depan, penanganan sampah di sekitar Flyover Ciputat perlu diarahkan pada penguatan kolaborasi lintas pihak dengan fokus pada stabilitas sistem angkut, pengawasan rutin, dan edukasi publik. Tanpa perubahan pendekatan menuju kerja sama pentahelix yang nyata, tumpukan sampah akan terus berulang dan ruang publik Ciputat tetap terjebak dalam masalah yang sama.

Bagikan Artikel Ini