Kelompok Wanita Tani (KWT) Curug Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga Lewat P2L

Penulis: Ayi Susanti
Dosen Pembimbing: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.R.
Kepala Program Studi: Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos.
Kemahasiswaan: Jaka Maulana, S.A.P., M.A.R.
Program Studi: Administrasi Negara
Universitas Pamulang, Serang


Ketahanan pangan sering dipahami sebagai urusan besar yang berkaitan dengan pasokan nasional atau fluktuasi harga kebutuhan pokok. Padahal, terdapat gerakan yang bekerja sangat dekat dengan kehidupan warga, yaitu pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan. Di Kecamatan Curug, Kota Serang, kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) membuktikan bahwa keterbatasan lahan tidak menjadi hambatan untuk memberikan kontribusi ekonomi dan sosial bagi keluarga.

Program P2L, meskipun terlihat sederhana, menyimpan makna mendalam. Aktivitas menanam di pekarangan tidak hanya menambah ketersediaan bahan pangan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan bagi perempuan. Melalui kelompok, para anggota saling bertukar teknik, berbagi bibit, serta membagikan pengalaman bertahun-tahun. Dari rutinitas tersebut tumbuh solidaritas, kemampuan mengelola kebutuhan rumah tangga, serta kepercayaan diri baru bagi banyak perempuan yang sebelumnya merasa tidak memiliki kontribusi ekonomi. Pemberdayaan ini muncul dari proses yang sabar, organik, dan berkelanjutan—tanpa memerlukan program besar yang kompleks.

Manfaat ekonomi pun terasa langsung. Pekarangan menjadi sumber penghematan karena sebagian kebutuhan pangan harian dapat dipenuhi secara mandiri. Bahkan, kelebihan hasil panen kerap dijual sehingga menambah pendapatan rumah tangga—kecil namun berarti, terutama ketika harga pangan tidak stabil. Bentuk ketahanan pangan seperti ini mungkin tidak selalu tercatat dalam statistik formal, tetapi dampaknya sangat nyata bagi keluarga yang terus menyesuaikan diri dengan dinamika ekonomi.

Dimensi sosialnya tidak kalah penting. Melalui KWT, perempuan memperluas jejaring, membangun keberanian, serta melahirkan kepemimpinan lokal yang tumbuh dari pengalaman mereka sendiri. Dalam kerangka pembangunan berbasis komunitas, inisiatif seperti ini merupakan contoh penting bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan dilakukan oleh warga itu sendiri.

Dengan demikian, P2L memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan perkotaan. Penguatan pendampingan teknis, peningkatan akses pasar, serta kolaborasi antarlembaga dapat memperkokoh upaya yang sudah berjalan. Perempuan di Curug telah menunjukkan konsistensi, meski tanpa banyak sorotan. Tantangan selanjutnya adalah memastikan agar langkah kecil ini mendapat ruang tumbuh, sehingga manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak keluarga dan memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.

Lebih jauh lagi, inisiatif seperti P2L membuka ruang bagi pemerintah daerah dan organisasi masyarakat untuk kembali melihat pentingnya pendekatan akar rumput dalam kebijakan pangan. Ketika warga diberikan pengetahuan, akses, dan dukungan yang memadai, mereka mampu menciptakan solusi yang tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan. Curug memberi teladan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari skala besar; keberhasilan justru dapat tumbuh dari pekarangan-pekarangan kecil, dengan perempuan sebagai motor penggeraknya.

Bagikan Artikel Ini