Beranda Pemerintahan Banten Ranking Pertama Pengangguran Terbuka se Indonesia

Banten Ranking Pertama Pengangguran Terbuka se Indonesia

Ilustrasi - foto istimewa google.com

 

SERANG – Provinsi Banten pada Februari 2020 masih menduduki peringkat pertama tingkat pengangguran terbuka (TPT) se Indonesia dengan persentase mencapai 8,01 persen atau 489,2 ribu orang pengangguran di Banten. Sementara, jumlah angkatan kerja pada bulan yang sama mengalami penurunan sebanyak 31.197 dari 6,11 juta dibanding Februari 2019.

Jika di bandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, pengangguran terbuka di Banten yang mencapai 8,01 persen merupakan angka tertinggi se Indonesia. Posisi kedua ditempati Jawa Barat dengan angka 7,69 persen dan disusu oleh Kalimantan Timur 6,88 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Perwakilan Banten, Adhi Wiriana mengatakan, pengangguran di Banten mengalami penambahan sebanyak 23.409 orang. Hal itu sejalan dengan kenaikan TPT menjadi 8,01 persen pada Februari 2020.

“Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT tertinggi merupakan lulusan SMA yaitu sebesar 13,48 persen. Sedangkan TPT lulusan SMK sebanyak 13,11 persen,” kata Adhi kepada BantenNews.co.id, Selasa (5/5/2020).

Adhi menjelaskan, TPT merupakan indikator untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap di pasar kerja. Ia menyebutkan, persentase TPT jika dibandingkan pada Februari 2018 dan 2019 mengalami peningkatan.

Diketahui, berdasarkan data BPS angka TPT pada Februari 2018 sebesar 7,77 persen dimana pada Februari 2019 angka TPT sedikit mengalami penurunan sebesar 7,58 persen. Namun, pada Februari 2020 TPT Banten mengalami kenaikan sebesar 8,01 persen.

Adhi juga menuturkan, dilihat dari domisili, TPT diperkotaan tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan TPT di wilayah pedesaan.

“Pada Februari 2020, TPT di wilayah perkotaan mencapai 8,16 persen, sedangakn di wilayah pedesaan sebesar 7,60 persen. Dibandingkan dengan tahun lalu, angka TPT di wilayah perkotaan meningkat sebesar 0,71 persen dan TPT di pedesaan turun sebesar 0,31 persen,” paparnya.

Dilihat dari pasar kerja, lanjut Adhi, penawaran kerja lebih menyasar pada masyarakat berpendidikan tinggi. Dengan kata lain,  penawaran tenaga kerja tidak terserap pada tingkat pendidikan SMA dan SMK.

“Mereka yang berpendidikan rendah cenderung menerima pekerjaan apa saja. Hal itu dapat dilihat dimana TPT SMA mencapai 13,48 persen, TPT SMK sebesar 13,11 persen, sedangkan TPT SMP 7,22 persen dan TPT SD mencapai 4,33 persen,” ujarnya.

“Apabila dibandingkan dengan TPT tahun yang lalu, TPT terjadi pada tingkat sekolah menengah atas (SMA),” sambungnya. (Tra/Mir/Red)