Beranda Uncategorized Banten Dibayangi Covid-19, Bisnis Pariwisata Mati Suri

Banten Dibayangi Covid-19, Bisnis Pariwisata Mati Suri

Wisata di Pantai Pulau Oar - foto istimewa Instagram Banten Bagus

SERANG – Kondisi pengembangan pariwisata Banten dalam kondisi kritis pasca ditetapkannya status kejadian luar biasa pandemi Covid-19 oleh pemerintah. Bahkan masyarakat pelaku wisata di Banten terpuruk.

Provinsi lain mendapat bantuan dari pusat guna pelaku wisata terdampak Covid-19, sementara pelaku wisata di Banten tak mendapat apa-apa. Karena Pemprov Banten tak mengajukan permohonan ke pusat yang sudah diusulkan para pelaku wisata di Banten.

Seperti diketahui bersama pada saat ini seluruh komponen ekonomi negara dalam keadaan terpuruk bukan hanya di Indonesia tapi hampir 210 negara di dunia.





“Sudah jatuh dan tertimpa tangga, saat mau berdiri terjerembab ke jurang pula,” kata Ade Ervin, aktivis pariwisata yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Badan Keselamatan Pariwisata (Balawista) saat ditanya para wartawan melalui daring komunikasi, Selasa (28/4/2020).

Di Indonesia sendiri, lanjut Ervin, Covid-19 sudah hampir menginfeksi masyarakat di berbagai daerah sehingga wajar kiranya pemerintah melakukan skala prioritas penanganan pandemik ini guna mempertahankan keberlangsungan hidup masyarakatnya. Namun kebijakan tersebut tentunya berdampak besar terhadap prilaku sosial hidup masyarakat dan keterpurukan ekonomi akhirnya tidak dapat dicegah.

“Ketika kita berbicara Banten, jika dipetakan sebetulnya kita semua bisa melihat, sektor paling paling terdampak berat adalah sektor pariwisata lalu sektor industry, sektor perdagangan, sektor pekerjaan umum seperti jasa dan angkutan dll, dan yang paling relative aman adalah sektor pertanian dan perikanan,” jelas Ervin.

Covid-19 adalah puncak cobaan bagi para pelaku wisata Banten mulai dari pengusaha perhotelan, wisata umum, travel, tour guide dan para pekerjanya, hingga masyarakat pariwisata baik yang terlibat langsung dan tidaknya, hampir seluruhnya terhenti.

“Dan selama lebih dari satu bulan mereka mencoba bertahan dan berharap bantuan pemerintah pusat, akhirnya dua hari lalu saya mewakili mereka mencoba berkordinasi kepada beberapa relasi di Kementerian Pariwisata dan ekonomi kreatif, hal ini didasari pada situasi dimana para pelaku wisata melihat beberapa daerah seperti Provinsi Bali, Jogja dan Jabar sudah mendapatkan bantuan dari Kementerian Pariwisata. “Pertanyaan sederhana dari mereka adalah kenapa pelaku wisata Banten tidak?” Tegas Ervin.

Hingga beberapa data diperlihatkan, sambung Ervin, ternyata tidak ada satu pun pengajuan atau permohonan bantuan dari pemerintah Provinsi Banten untuk para pelaku wisata kepada Kementerian Pariwisata. Akhirnya mungkin pemerintah pusat menganggap tidak terjadi apa-apa terhadap masyarakat pariwisata di Banten, sehingga jeritan hati mereka dianggap tak ada.

“Dari kondisi tersebut, saya mewakili para pelaku wisata memohon kepada pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pariwisata, ayo bangkit dan bantu para pelaku wisata Banten agar mereka bisa membangun Kembali destinasinya, jika pemerintah tidak membantu mereka bagaimana mereka dapat membangun Kembali pariwisata yang dahulu menjadi dambaan kita bersama,” tuturnya.

Selain permohonan bantuan untuk pelaku wisata tersebut, Ervin juga berharap kepada pemerintah Provinsi Banten untuk segera dapat dibentuknya pusat krisis pariwisata Provinsi.

“Hal ini berguna bagi pemerintah provinsi di kala kondisi kepariwisataan terpuruk melalui pusat krisis pariwisata inilah dapat dilaksakanan kontijensi kedaruratan pariwisata,” tukasnya.

(You/Red)