Beranda Peristiwa Antisipasi Dampak Bencana Industri dari Tsunami, Chandra Asri Klaim Mampu Shut Down...

Antisipasi Dampak Bencana Industri dari Tsunami, Chandra Asri Klaim Mampu Shut Down Pabrik di 3 Menit

511
0
Director of Human Resources and Corporate Affairs PT CAP, Suryandi (kiri) saat memberikan keterangan pers. (Foto : Gilang)

CILEGON – PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) adalah perusahaan petrokimia terbesar di Kota Cilegon saat ini. Keberadaan pabrik yang tak jauh dari bibir Selat Sunda, menjadikan perusahaan gabungan dengan PT Tri Polyta Indonesia Tbk ini menjadi salah satu perusahaan yang rawan terdampak bila bencana tsunami dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali terjadi seperti beberapa waktu lalu.

Hal ini pula yang diungkapkan oleh Director of Human Resources and Corporate Affairs PT CAP, Suryandi saat penyerahan bantuan kepada korban tsunami melalui PMI Kota Cilegon, Selasa (8/1/2019). “Kalau ada bencana itu adalah keadaan alam, dimana Tuhan yang menentukan dan kita hanya bisa berencana. Kalau sampai bencana itu terjadi, semaksimal mungkin kita upayakan keselamatan jiwa karyawan, di saat itu mana yang harus meninggalkan pos. Automatically shut down (penghentian operasi pabrik) itu tidak bisa langsung kita lakukan, jadi tetap harus dilakukan oleh pegawai yang jaga. Kita butuhkan waktu kurang lebih 3 menit,” ujarnya.

Aktivitas pabrik dan besarnya kapasitas produksi yang secara keseluruhan hingga 3,3 juta ton per tahun ini sempat mengundang keresahan warga yang tinggal di sekitar pabrik, di beberapa kelurahan di Kecamatan Ciwandan, terlebih pasca tsunami menerjang belum lama ini.

“Kalau produksi kami itu kan ethylene, saat ini kapasitas produksinya 800.000 ton per tahun. Lalu propylene kurang lebih 460.000 ton. Selain itu ada bijih plastik polypropylene dan polyethylene. Jadi kami produksi terus, kalau di tangki itu tidak banyak karena begitu produksi selesai itu langsung masuk ke pabrik yang menghasilkan polypropylene dan polyethylene tersebut,” katanya.

Di bagian lain, Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi mengatakan fenomena bencana tsunami yang terjadi belum lama ini memaksa pemerintah mendesak agar industri kimia di Kota Cilegon terus memperbaharui Standar Operasional Prosedur (SOP) mereka, utamanya dalam penghentian serentak operasional pabrik.

“Yang jelas mereka harus merubah SOP. Bagaimana cara dia men-shut down kalau memang bencana itu datang tiba-tiba. Jadi berapa menit dia bisa mengamankan seluruh industri. Ada yang 3 menit, ada yang 4 menit. Tapi kabarnya SOP sudah diperbaharui, terus untuk titik evakuasinya di lokasi Chandra Asri itu sendiri ada di gedung yang paling tinggi,” katanya. (dev/red)