Beranda Ramadan Ancak dan Maleman, Tradisi Penghujung Ramadan di Banten

Ancak dan Maleman, Tradisi Penghujung Ramadan di Banten

Tradisi ancak di Kaloran Pena. (Ist)

BEBERAPA remaja menata beragam makanan ringan kemasan di meja bambu yang di tengahnya tertancap sebatang pohon pisang. Ada juga yang memasang lembaran rupiah di bagian atas pohon pisang

Di sekeliling mereka sudah bersiap puluhan warga untuk mengikuti tradisi ancak. Setelah semua siap, warga langsung berebut makanan dan lembaran rupiah.

Tradisi Ramadan ini masih bisa ditemukan di beberapa daerah di Banten, salah satunya di lingkungan Kaloran Pena, Kota Serang.  Di daerah ini tradisi ancak biasa dilakukan di penghujung Ramadan.

 

“Sampai sekarang di Kalpen (Kaloran Pena-red) masih ada tradisi ancak,” ujar Dedi, warga sekitar.

 

Istilah ancak merujuk pada alas anyaman bambu yang mengelilingi batang pohon pisang. Mudjahid Chudori dalam kamus Bahasa Jawa Banten menyebut ancak n(p/b) sebagai talam dibuat dari anyaman bambu digunakan untuk menjemur (mis. kerupuk, ikan asin, ényé-ényé, dendeng, dsb)’

 

Dalam memoar berjudul ‘Herinneringen Van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (1936)’ bahwa pada tanggal 21 Ramadan yang disebut ‘malem selikoer’, halaman rumah diterangi lampu minyak. Sebuah pohon pisang ditancapkan di halaman, dan di sekelilingnya dibuat meja bambu kecil (ancak). Makanan diletakkan di atasnya.

 

Aria Achmad Djajadingrit yang pernah menjabat Bupati Serang pada 1901-1924  ini lalu menceritakan bahwa sebagian makanan ditujukan untuk tamu resmi, sebagian khusus untuk orang miskin. Anak-anak diperbolehkan menyalakan kembang api.

 

Pada tanggal ganjil di penghujung Ramadan yakni 23, 25, 27, dan 29, halaman tetap diterangi dan makanan tetap disediakan di atas ancak untuk orang miskin, tetapi tanpa tamu resmi dan tanpa kembang api.

 

Yadi Ahyadi, peneliti di Klinik Pustaka Banten menyebut bahwa tradisi berbagi makanan pada tanggal ganjil akhir Ramadan masih dapat ditemukan di beberapa kampung dengan nama tradisi maleman..”Tradisi maleman kalau sekarang, jadi yang tanggal atau hari lahir jatuh di tanggal ganjil maka ngirim makanan ke masjid. Makanan itu dikenal ancak-ancakan,” ujarnya.

Baca Juga :  Sambut Ramadan, Warga Cibadak Gotong-Royong Bersihkan Masjid

 

Penulis : Tb Ahmad Fauzi

Editor :  TB Ahmad Fauzi