Beranda Peristiwa Alarm Darurat PMI Banten, PBM: Kematian hingga Penipuan Dominasi Aduan

Alarm Darurat PMI Banten, PBM: Kematian hingga Penipuan Dominasi Aduan

Ilustrasu pekerja miigran Indonesia. (AI-Net)

SERANG — Kasus pekerja migran asal Banten terus meledak. Kematian misterius, penipuan, hingga pemberangkatan ilegal mendominasi laporan yang masuk ke Persatuan Buruh Migran (PBM) Banten.

Sekretaris Jenderal PBM Banten, Suwandi menyebut, laporan terus berdatangan tanpa jeda. Hingga Jumat (3/4/2026), timnya kembali menerima aduan baru—menambah daftar panjang persoalan yang belum tuntas.

“Kasus terus berulang. Belum ada penyelesaian yang benar-benar memutus mata rantainya,” tegas Suwandi.

Salah satu kasus yang menyita perhatian datang dari Kabupaten Serang. Seorang pekerja migran meninggal di luar negeri dengan dugaan jatuh dari lantai lima.

Namun, kata dia, penyebab pasti kejadian itu masih gelap.

“Kami temukan sejumlah kejanggalan. Informasi awal menyebut korban jatuh, tapi apa yang sebenarnya terjadi belum jelas,” ujarnya.

PBM kini menelusuri kasus tersebut sambil mendesak transparansi dari pihak terkait.

Di balik deretan kasus, Suwandi melihat akar masalah yang lebih dalam. Banten menjadi salah satu kantong terbesar pekerja migran.

Minimnya lapangan kerja mendorong warga nekat mencari penghidupan ke luar negeri sering kali tanpa jalur resmi.

Situasi ini dimanfaatkan jaringan penyalur ilegal. Mereka bergerak agresif, terutama lewat media sosial, menawarkan pekerjaan dengan gaji tinggi yang kerap berujung jebakan.

“Banyak korban berawal dari media sosial. Kasus di Kamboja kemarin juga begitu, korbannya warga Serang,” kata Suwandi.

Ia menegaskan, korban tidak hanya datang dari kalangan berpendidikan rendah. Lulusan sarjana pun ikut terjerat iming-iming gaji besar tanpa memeriksa legalitas.

Data PBM mencatat, sepanjang 2025 terdapat sekitar 15 kasus, mayoritas penipuan. Pada akhir 2024, jumlahnya bahkan mencapai 27 laporan, termasuk kasus besar yang menyeret pelaku hingga penyitaan aset meski hingga kini masih buron.

Baca Juga :  Balita di Ciujung Tewas Terpeleset ke Sungai

Memasuki 2026, dalam tiga bulan pertama saja, sudah muncul enam laporan baru. Kasusnya beragam: penipuan, biaya berlebih, pemberangkatan bermasalah, hingga kematian.

PBM tidak tinggal diam. Mereka turun langsung ke wilayah-wilayah rawan seperti Kronjo, Mekarbaru, Pontang, Tanara, hingga Tirtayasa untuk mengedukasi warga soal bahaya jalur ilegal.

Di saat yang sama, PBM menggandeng Disnakertrans untuk mendorong jalur resmi melalui pelatihan dan penempatan kerja yang terverifikasi.

“Peluang kerja itu ada, tapi harus lewat jalur resmi. Ada sektor perhotelan, perawatan, sampai kecantikan di luar negeri. Semua bisa diakses dengan prosedur yang benar,” jelasnya.

Suwandi mengingatkan warga agar tidak mudah tergiur janji manis tanpa kepastian.

“Pastikan penyalur resmi dan terdaftar di Disnaker. Itu kunci utama supaya aman,” tegasnya.

Gelombang kasus ini menjadi peringatan keras: di balik mimpi bekerja di luar negeri, ada risiko besar yang mengintai jika jalur yang dipilih salah.

Penulis : Rasyid
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd