Beranda Pemerintahan Akademisi: Masyarakat Banten Butuh Makan dan Obat di Tengah Pandemi, Bukan Rumput...

Akademisi: Masyarakat Banten Butuh Makan dan Obat di Tengah Pandemi, Bukan Rumput Itali

Gubernur Banten Wahidin Halim meninjau progres pembangunan Sport Center, di Kemanisan, Curug, Kota Serang, Banten. (Iyus/Bantennews.co.id)

SERANG – Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Ikhsan Ahmad meminta Gubernur Banten tidak asik dengan dunianya sendiri. Seharusnya pimpinan daerah mengedepankan kepentingan masyarakat di masa pandemi Covid-19.

Ikhsan juga mempertanyakan kepentingan pembuatan stadion di tengah kesulitan masyarakat.

“Di Banten, pemimpinnya asik dengan dunia sendiri, yakni dunia citra dan target politik kontestasi di tengah kesusahan masyarakat di masa pandemi, baik urusan kesehatannya maupun dampak ekonominya. Pertanyaan mendasarnya adalah apa urgensi stadion dengan rumput italianya¬† ditengah masa pandemi?,” kata Ikhsan, Selasa (13/7/2021).

Ikhsan juga menilai ketidakmampuan memahami dan merasakan penderitaan rakyat ini yang sebetulnya menjadi komorbit atau penyakit bawaan yang meyebabkan penderitaan masyarakat Banten semakin parah. 

“Secara moral sebenarnya kepemimpinan di Banten saat ini sudah bangkrut. Tetapi karena para pemimpinnya memakai masker dari ‘kulit badak’ jadi timbulah jarak antara visi kepemimpinan yang digembar gemborkan dengan realitas sesungguhnya,” katanya.

“Masker dari ‘kulit badak’ yang dikenakan oleh para pemimpin inilah yang kemudian menghilangkan sense of crisis kepada masyarakat,” sambungnya.

Menurut Ikhsan, stadion yang sekarang berdiri megah di tengah masyarakat tidak menjadi simbol kebangkitan ekonomi di masa pandemi.

Baca juga: Warga Banten Bakal Punya Stadion Internasional

“Masyarakat ini sedang berjuang dan membutuhkan kehadiran negara. Kalau (lihat staidon) itu seperti ritual sesembahan untuk oligarki politik, sesembahan balas budi untuk pemodal yang telah mendudukan mereka di kursi kekuasaan. Sebagai penyembah berhala oligarki dalam agama politik yang dianut saat ini tentu saja menyesatkan dan menutup jalan kebaikan yang sejatinya hanya untuk masyarakat,” pungkasnya.(Mir/Red)