BANTEN — Keterbatasan tenaga dokter spesialis radiologi menjadi salah satu tantangan dalam memperluas pemeriksaan penyakit tuberkulosis (TBC) di Banten. Untuk mengatasi kendala tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses skrining.
Kepala Dinkes Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, penggunaan teknologi tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengatasi keterbatasan dokter spesialis radiologi dalam menganalisis hasil pemeriksaan masyarakat.
Teknologi tersebut digunakan melalui perangkat rontgen portabel yang dilengkapi sistem berbasis AI. Alat ini membantu melakukan analisis awal terhadap hasil foto rontgen dada, sehingga proses identifikasi masyarakat yang memiliki indikasi TBC dapat dilakukan lebih cepat.
Pemanfaatan teknologi ini juga mendukung pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang salah satu tujuannya adalah menemukan penyakit sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Ati menyebutkan penggunaan rontgen portabel berbasis AI menjadi salah satu solusi untuk memperluas cakupan skrining, khususnya ketika jumlah dokter radiologi yang tersedia masih terbatas. Sistem tersebut diklaim memiliki tingkat akurasi hingga 99,99 persen dalam membantu membaca hasil pemeriksaan.
Meski demikian, teknologi AI tidak menggantikan peran tenaga medis. Hasil analisis dari sistem digunakan sebagai alat bantu untuk mengidentifikasi temuan yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut dan dapat ditindaklanjuti melalui pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.
Langkah ini dinilai penting mengingat deteksi dini menjadi salah satu kunci dalam pengendalian TBC. Semakin cepat seseorang yang terindikasi TBC ditemukan dan mendapatkan pemeriksaan lanjutan, semakin besar peluang penyakit tersebut ditangani sekaligus mencegah penularan kepada orang di sekitarnya.
Pemanfaatan AI dalam layanan kesehatan juga menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab persoalan keterbatasan sumber daya manusia. Dengan perangkat yang dapat dibawa ke berbagai lokasi, pemeriksaan tidak harus selalu bergantung pada ketersediaan fasilitas radiologi dan dokter spesialis di satu tempat.
Dinkes Banten pun mendorong pemanfaatan teknologi tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas akses pemeriksaan dan mempercepat penemuan kasus TBC di masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat tetap perlu memahami bahwa hasil skrining berbasis AI bukan merupakan diagnosis akhir. Warga yang menunjukkan indikasi TBC tetap membutuhkan pemeriksaan dan penilaian lebih lanjut oleh tenaga kesehatan untuk memastikan kondisi serta menentukan penanganan yang tepat.
Dengan kombinasi teknologi, tenaga kesehatan, dan program skrining yang menjangkau masyarakat lebih luas, upaya menemukan kasus TBC di Banten diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan efisien. (ADV)
