Beranda Opini Ada Teknologi Baru di Piala Dunia 2022 Qatar

Ada Teknologi Baru di Piala Dunia 2022 Qatar

Piala Dunia 2022 Qatar. (Twitter)

BANTEN – Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar semakin dekat. Kick off Piala Dunia 2022 akan berlangsung pada 20 November 2022.

Event empat tahunan ini akan mempertandingkan 32 negara dan ditonton langsung 1,2 juta suporter sepak bola dari seluruh belahan dunia.

Lantas apa saja hal baru yang ada di Piala Dunia 2022?

Teknologi offside. Pada Juli 2022, FIFA mengumumkan penggunaan sistem offside semi otomatis di Piala Dunia untuk membantu perangkat wasit menilai putusan offside yang cepat dan akurat.

Menurut peraturan dari FIFA, seorang pemain berada di posisi offside jika setiap bagian dari kepala, tubuh atau kaki berada di setengah bagian lawan (tidak termasuk garis tengah) dan setiap bagian dari kepala, tubuh atau kaki lebih dekat ke garus gawang daripada bola dan lawan kedua terakhir.

Nantinya di Piala Dunia 2022 akan ada teknologi menggunakan sensor dalam bola dan sistem kamera pelacak anggota tubuh untuk mengikuti pergerakan pemain.

Untuk membantu para penonton di layar televisi nanti, guna memahami keputusan wasit untuk offside akan ditampilkan data berupa gambar 3D di layar stadion.

Selain itu akan ada 12 kamera yang dipasang di 8 stadion di Qatar. 12 kamera itu akan menyediakan data pergerakan pemain ke sistem VAR.

Pada Piala Dunia 2022 juga diberikan aturan baru terkait pergantian pemain di satu pertandingan. Tim yang bertanding mendapat izin untuk mengganti pemain sebanyak lima kali.

Peraturan ini diperkenalkan oleh Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional pada 2020 pasca adanya pandemi Covid-19.

Jika ada pertandingan Piala Dunia 2022 utamanya di babak knockout, pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu, tim bisa menambah satu lagi pergantian pemain.

Untuk pertama kalinya, Piala Dunia 2022 akan ada wasit wanita. Bakal ada 3 wasit wanita di Piala Dunia 2022.

Ketiga wasit wanita itu ialah, Stephanie Frappart dari Prancis, Yoshimi Yamashita dari Jepang, dan Salima Mukansanga dari Rwanda. (Red)