SERANG — Tim SAR gabungan tidak akan membuka kembali operasi pencarian Arupadhatu 1 yang hilang di perairan Selat Sunda. Penemuan salah satu kru kapal di Pulau Enggano, Bengkulu, tidak mengubah keputusan tersebut.
Kepala Basarnas Banten, Al Amrad mengatakan, tim SAR sudah menjalankan operasi pencarian sesuai prosedur. Tim mencari korban selama tujuh hari dan memperpanjang operasi hingga 10 hari karena belum menemukan tanda-tanda keberadaan rombongan.
“Informasi yang kami terima tanggal 8 kita tindaklanjuti hingga tanggal 14. Kita masih melakukan pencarian di lokasi hilangnya para korban,” kata Al Amrad, Rabu (23/9/2026).
Menurut Al Amrad, tim SAR gabungan tetap menyisir sejumlah wilayah setelah operasi resmi berakhir pada masa perpanjangan. Namun, pencarian tersebut belum menemukan kapal maupun korban lainnya.
“Sejak tanggal 17, SAR gabungan masih menyisir. Masalah pencarian ulang, secara aturan kita melaksanakan pencarian tujuh hari, diperpanjang sampai 10 hari. Tidak ada tanda-tanda korban,” ujarnya.
Setelah masa operasi berakhir, Basarnas mengalihkan upaya pencarian menjadi pemantauan. Tim akan mengandalkan informasi dari pelaut dan nelayan yang melintas di perairan Selat Sunda.
“Penghentian atau pembukaan kembali, jika setelah masa perpanjangan korban tetap tidak ditemukan dan tidak ada tanda-tanda penemuan, operasi dapat ditutup atau dialihkan menjadi pemantauan atau pengawasan tanpa batas waktu,” katanya.
Sebelumnya, warga menemukan satu jenazah di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Polisi menduga jenazah tersebut merupakan Surakman alias Sukarman (60), salah satu kru Arupadhatu 1.
Kapolda Banten, Irjen Pol Hengky mengatakan, temuan tersebut menjadi informasi penting bagi petugas. Jika pelaut atau nelayan menemukan korban lain yang diduga berkaitan dengan Arupadhatu 1, mereka diminta segera melapor kepada petugas.
“Dengan ditemukannya satu korban, sementara pencarian meminta bantuan transportasi laut bilamana menemukan seperti di Pulau Enggano ini, maka segera memberitahukan kepada petugas, supaya kita lakukan hal yang sama seperti yang ditemukan sekarang ini,” kata Hengky.
Hingga kini, petugas belum menemukan Arupadhatu 1. Polisi juga belum mengetahui kondisi kapal tersebut, termasuk apakah kapal tenggelam, terbakar, atau mengalami kondisi lain.
“Kepastian keseluruhan kapal itu terbakar, tenggelam tidak diketahui, karena sampai sekarang kapal itu tidak ditemukan. Belum jelas ditenggelamkan atau apa, saya tidak menjawab itu,” ujar Hengky.
Arupadhatu 1 membawa delapan orang, terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru kapal. Mereka kehilangan kontak saat berlayar menuju kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK) untuk meliput aktivitas erupsi, Senin (7/9/2026).
Penulis : Rasyid
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
