Beranda Budaya Boen Tek Bio: Warisan Sejarah dan Simbol Toleransi di Kota Tangerang

Boen Tek Bio: Warisan Sejarah dan Simbol Toleransi di Kota Tangerang

Beberapa warga menyalakan dupa di Vihara Boen Tek Bio Kota Tangerang. (Iyus/bantennews)

Menjelang Tahun Baru Imlek, suasana di Boen Tek Bio memang tak pernah benar-benar sepi. Sejumlah pengurus dan umat terlihat bergotong royong.

Ada yang membersihkan altar dengan kain putih, ada yang memoles kembali ornamen kayu berukir naga, ada pula yang menggantung lampion satu per satu di serambi depan.

Tapi menilik sejarah, Klenteng Boen Tek Bio berdiri di jantung Kota Tangerang, tepatnya di tepi Sungai Cisadane, sejak abad ke-17 atau 1684.

Di usia lebih dari tiga abad, Boen Tek Bio masih berdiri gagah. Dindingnya menyimpan kisah panjang tentang warga Tionghoa Benten, komunitas yang tumbuh dari perjumpaan sejarah, perpindahan, dan perjuangan bertahan hidup sejak masa kolonial.

Selepas tragedi Geger Pacinan 1740 di Batavia, banyak warga Tionghoa menyingkir ke pinggiran, termasuk ke Tangerang. Di sepanjang aliran Cisadane, mereka membangun kehidupan baru.

Mereka berbaur dengan masyarakat lokal, menggunakan bahasa setempat, bahkan menyerap tradisi sekitar. Namun satu hal tetap dijaga, keyakinan dan nilai leluhur dan Boen Tek Bio menjadi penopangnya.

Nama klenteng ini mengandung harapan: Boen berarti budaya atau sastra, Tek berarti kebajikan, dan Bio berarti tempat ibadah. Tempat ini bukan sekadar ruang sembahyang, melainkan rumah bagi kebajikan dan kebudayaan. Malam pergantian tahun selalu menjadi puncaknya.

Bagi masyarakat Tionghoa Benteng, Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar. Ia adalah momen pulang, pulang pada keluarga, pada leluhur, pada nilai kebajikan yang diajarkan turun-temurun. Kue keranjang tersaji di meja, angpao berpindah tangan, dan tawa keluarga mengisi ruang-ruang rumah.

Namun yang membuat Boen Tek Bio istimewa bukan hanya sejarahnya yang panjang. Di tengah masyarakat Tangerang yang majemuk, klenteng ini berdiri sebagai simbol kebersamaan.

Baca Juga :  Enam Makanan Khas pada Tahun Baru Imlek

Setiap Imlek, warga non-Tionghoa ikut membantu menjaga keamanan, bahkan turut menikmati kemeriahan barongsai dan lampion yang menghiasi jalanan.

Tiga abad lebih telah berlalu. Pasar Lama terus berubah, gedung-gedung modern tumbuh, generasi berganti. Tetapi di bawah lampion merah Boen Tek Bio, satu hal tetap sama: harapan.

Setiap tahun, di tempat yang sama, orang-orang datang membawa doa dan pulang membawa keyakinan bahwa esok bisa lebih baik. Di antara asap dupa dan dentuman petasan, sejarah dan masa depan seolah bertemu mengikat kebajikan, budaya, dan kebersamaan dalam satu perayaan bernama Imlek.

Tim Redaksi