Beranda Pemerintahan Pemprov Datangkan Ikan dari Cirebon untuk Tutupi Defisit

Pemprov Datangkan Ikan dari Cirebon untuk Tutupi Defisit

Puluhan perahu nelayan ditambatkan di dermaga Labuan, Pandeglang. (Memed/bantennews)

SERANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menutup defisit ikan dengan mendatangkan pasokan dari luar daerah, seperti Cirebon dan kawasan Pantai Selatan. Hal itu menyusul produksi lokal yang belum mampu memenuhi kebutuhan 500 ribu ton per tahun.

“Yang jelas (pasokan-red) kita ada dari kita sendiri dan dari Cirebon biasanya. Dari daerah Pantai-pantai Selatan juga masuk ke kita. Dari luar daerah pasti ada untuk mencukupi kebutuhan,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banten, Iwan Hermawan, Jumat (13/2/2026).

Iwan tidak merinci berapa total ikan yang didatangkan dari luar daerah. Ia hanya menuturkan, suplai ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) saat ini menurun akibat berkurangnya tangkapan nelayan lokal.

Ia menyebut faktor cuaca sebagai penyebab utama. Kondisi laut yang tak menentu membuat produksi anjlok, sementara permintaan masyarakat, terutama untuk ikan kembung terus meningkat.

“Mungkin terkait cuaca juga ya. Di laut sendiri cuacanya kurang bagus, sehingga terjadi penurunan terhadap produksi ikan. Sementara itu, kebutuhan masyarakat terus meningkat, terutama untuk jenis ikan kembung yang permintaannya cukup tinggi,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten, Agus Supriyadi mengungkapkan, defisit ikan di daerahnya mencapai 310 ribu ton.

Menurut dia, pada 2025 total produksi ikan Banten hanya sekitar 190.000 ton per tahun, terdiri atas 75.000 ton perikanan tangkap dan 115.000 ton perikanan budidaya. Angka itu jauh di bawah kebutuhan daerah yang mencapai 500.000 ton per tahun.

“Jadi kurang 310.000 ton. Dan ini ironis, berarti ada yang harus dioptimalkan,” ujar Agus.

Agus mengatakan, defisit tersebut menjadi perhatian serius karena Banten berada di pertemuan tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 712, 573, dan 572.

Baca Juga :  Terendam Banjir, Seleksi P3K di Lebak Diundur

Secara geografis, posisi ini dinilai strategis di tingkat nasional dan semestinya dapat dimaksimalkan untuk mendongkrak produksi.

Ia memperingatkan, kesenjangan antara pasokan dan permintaan berpotensi memicu efek berantai terhadap perekonomian warga.

“Jika tidak segera ditangani, defisit ini diprediksi akan terus membengkak dan memicu kenaikan harga di pasar,” tegasnya.

“Tahun 2026 kita coba mau dioptimalkan bagaimana caranya supaya jangan sampai defisitnya makin besar. Karena ini akan pengaruhi ke harga ikan, dan pengaruh juga ke program Gemar Makan Ikan kita,” sambungnya.

Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd