Oleh : Fauzi Sanusi
Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Dalam banyak organisasi di Indonesia seperti pemerintahan, BUMN/BUMD, perusahaan swasta, organisasi kemasyarakatan bahkan kampus, kita masih menemukan kesalahan pola pikir yang sama yaitu bahwa kepemimpinan dianggap soal jabatan. Yang duduk di kursi tinggi otomatis dilabeli “pemimpin”, seolah pengaruh datang karena dia berpangkat atau ber-SK. Bukan dari kapasitas sosial.
Masalahnya, penelitian modern menunjukkan hal sebaliknya. Kepemimpinan bukan soal posisi struktural, tetapi relasi sosial. Pengaruh itu tidak lahir dari status, tetapi dari cara seseorang berinteraksi, membangun kepercayaan, dan menciptakan model komunikasi yang sehat.
Roth (2022) menegaskan bahwa struktur kepemimpinan muncul dari pola interaksi, bukan dari hierarki formal. Ini berarti orang yang duduk di jabatan tertinggi belum tentu menjadi pemimpin sesungguhnya dalam dinamika tim.
Tulisan ini saya buat, agar terlihat berbobot, mengacu pada lima artikel yang terbit di junal internasional bereputasi yang membahas tentang kepemimpinan sebagai proses interaksi sosial.
Pemimpin Formal Sering Mengira Mereka Pemimpin
Banyak pejabat atau manajer atau ketua menganggap jabatan adalah bukti kepemimpinan. Mereka merasa cukup dengan tanda pangkat di dada dan ruangan besar di kantor. Padahal, jabatan hanya memberi otoritas administratif, bukan jaminan kemampuan memengaruhi perilaku orang lain.
Dalam praktiknya, pemimpin formal yang gagal biasanya:
a. suka memerintah, tetapi tidak mampu menginspirasi
b. hadir secara fisik terutama dalam acara-acara formal, tetapi absen secara emosional
c. sibuk mempertontonkan kekuasaan, bukan membangun relasi
d. bicara keras, tetapi tidak didengar
Uhl-Bien (2006) menyebut ilusi ini sebagai kesalahan fatal dalam memahami kepemimpinan. Dia menulis bahwa kepemimpinan bukanlah peran statis, tetapi proses interaksional yang terus dibangun bersama pengikut.
Pemimpin yang tidak mampu mengelola interaksi sosial akhirnya hanya menjadi simbol tanpa kekuatan.
Interaksi Sosial Membentuk Pemimpin
Penelitian mendalam menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah hasil dari hubungan sosial yang berkualitas. Graen & Uhl-Bien (1995) membuktikan melalui teori LMX (Leader–Member Exchange) bahwa kualitas hubungan pemimpin–bawahan menentukan:
a. kejelasan peran
b. kepercayaan tim
c. koordinasi kerja
d. komitmen organisasi
Pemimpin yang memiliki relasi kuat dengan anggotanya memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan pemimpin yang hanya mengandalkan jabatan.
Fairhurst & Connaughton (2014) menambahkan bahwa kepemimpinan adalah proses komunikasi yang menciptakan makna bersama, bukan sekadar instruksi satu arah. Pemimpin terbentuk melalui diskursus, percakapan, dan interaksi berulang, bukan dari surat keputusan pengangkatan.
Dengan kata lain: Pemimpin adalah hasil konstruksi sosial, bukan hasil penunjukkan struktural.
Masalahnya: Banyak Pemimpin Tidak Punya Keterampilan Mengatur Interaksi
Inilah akar banyak kegagalan kepemimpinan di Indonesia. Pemimpin formal sering punya kemampuan teknis, tetapi tidak punya kemampuan relasional. Mereka tidak tahu cara membangun kepercayaan, mengelola konflik, atau menggerakkan kolaborasi.
Akibatnya:
1. Konflik kecil dibiarkan membesar. Karena pemimpin tidak tahu bagaimana memediasi percakapan.
2. Tim jadi pasif dan menunggu perintah. Karena tidak ada struktur interaksi yang mendorong inisiatif.
3. Koordinasi kacau. Karena komunikasi hanya terjadi saat rapat formal.
4. Motivasi turun. Karena pemimpin tidak membangun iklim psikologis yang aman.
Avolio & Gardner (2005) menekankan bahwa kepemimpinan autentik lahir dari hubungan yang transparan, saling percaya, dan pertukaran sosial positif. Tanpa itu, pemimpin hanya menjalankan administrasi, bukan memimpin manusia.
Pemimpin Formal Sering Menjadi Hambatan Perubahan
Di banyak organisasi atau lembaga, pemimpin struktural justru menjadi penghambat transformasi. Bahkan menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Mereka takut kehilangan kontrol, sehingga menolak model kepemimpinan yang lebih kolaboratif. Padahal generasi kerja modern menuntut kepemimpinan yang partisipatif, komunikatif, empatik dan adaptif. Bukan kepemimpinan dengan gaya instruktif dengan mengandalkan jabatan.
Roth (2022) mengingatkan bahwa konteks sosial yang dinamis menuntut pemimpin yang mampu terbuka, fleksibel, empati dan responsif terhadap interaksi di sekitarnya. Pemimpin yang tidak mampu membaca dinamika sosial akan cepat kehilangan legitimasi. Bahkan dipanggung belakang bisa dicuekin.
Apa yang Harus Dilakukan Organisasi Modern?
Berdasarkan referensi akademik terbaru, ada tiga langkah penting:
1. Hentikan promosi berdasarkan senioritas atau kedekatan politik.
Promosikan mereka yang bisa membangun hubungan secara berkualitas, kompeten dan berpotensi, bukan hanya yang paling dekat dan masa bekerja.
2. Investasikan pelatihan kepemimpinan berbasis komunikasi dan relasi. Meliputi komunikasi interpersonal, empati, mediasi konflik, dan manajemen dinamika kelompok. Inilah kompetensi yang paling menentukan.
3. Beri ruang bagi kepemimpinan informal. Seringkali pemimpin informal lebih didengar oleh pengikut atau publik daripada pemimpin formal.
Kesimpulan
Kita harus berani mengakui fakta ini:
Banyak organisasi dipimpin oleh orang yang punya jabatan, bukan oleh orang yang punya jiwa kepemimpinan.
Kepemimpinan sejati tidak muncul dari SK pengangkatan, tetapi dari kualitas interaksi, komunikasi, dan relasi sosial yang dibangun dalam waktu cukup panjang
Seperti ditegaskan Uhl-Bien (2006) dan diperkuat oleh Roth (2022) bahwa kepemimpinan adalah proses sosial, bukan struktur administratif.
Jika para pemimpin kita terus berpikir bahwa kepemimpinan hanyalah soal posisi, niscaya organisasi tidak akan ada perubahan signifikan karena dipimpin orang yang duduk di kursi tinggi, tetapi berdiri di atas fondasi yang rapuh.
Pemimpin yang efektif tidak sibuk mempertahankan jabatan. Ia sibuk membangun hubungan untuk meraih kepercayaan. Karena itu kepemimpinan sejati bukan tentang posisi yang dia duduki, tetapi tentang interaksi sosial yang dibangun dan pengaruh yang dihasilkan.
Jika mereka yang merasa pemimpin tidak mampu memahami ini, maka akan terus gagal memimpin meskipun kursi mereka semakin tinggi.
