KAB. TANGERANG – Komika Mega Salsabillah mengaku mendapat serangan dari akun-akun yang diduga buzzer setelah melayangkan kritik terhadap sejumlah kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang yang dinilainya belum menyentuh persoalan mendasar masyarakat.
Komika jebolan ajang Stand Up Comedy Academy (SUCA) 4 itu aktif menyampaikan kritik melalui konten media sosial. Beberapa isu yang ia soroti di antaranya kondisi jalan rusak, minimnya penerangan jalan, keterbatasan transportasi publik, hingga pelayanan administrasi kependudukan.
Mega mengatakan, serangan tersebut muncul tak lama setelah kritik disampaikan. Akun-akun yang menyerangnya didominasi akun anonim tanpa identitas jelas.
“Saya menduganya buzzer. Enggak tahu ordal atau bukan, tapi akun-akun kosong. Komentarnya seperti ‘hoaks loe’, ‘orang mana sih loe’, sampai ‘loe aja enggak bayar pajak’,” ujar Mega di Tigaraksa, Jumat (9/1/2026).
Salah satu kritik Mega yang viral menyinggung pelayanan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Tangerang. Konten tersebut bahkan mendapat respons langsung dari Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, melalui pesan langsung di media sosial.
Mega mengaku terkejut karena dalam waktu kurang dari 24 jam, pegawai Disdukcapil langsung mendatangi rumahnya untuk membantu menyelesaikan berkas administrasi yang dikeluhkan.
Namun, pengalaman tersebut justru memunculkan pertanyaan kritis di benaknya. Mega mengaku menerima banyak pesan dari warga yang mengalami respons berbeda saat mengajukan pengaduan serupa.
“Apakah harus viral dulu baru cepat ditangani? Kalau saya viral langsung ditanggapi, tapi bagaimana dengan masyarakat yang tidak viral? Apakah mereka juga didatangi ke rumah dan dibantu berkasnya?” ungkapnya.
Mega menegaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tangerang yang bersumber dari pajak rakyat seharusnya digunakan dengan skala prioritas pada layanan dasar.
Ia meminta Pemkab Tangerang lebih memprioritaskan persoalan sampah, jalan rusak, minimnya penerangan jalan, serta transportasi publik. Menurutnya, sejumlah proyek seperti pembangunan gerbang Pusat Pemerintahan Kabupaten (Puspemkab), tugu titik nol, dan proyek lain yang dinilai tidak mendesak justru menuai kritik luas dari publik.
Mega menekankan, kritik yang ia sampaikan bertujuan mendorong pemerintah agar berbenah dan lebih berpihak pada kesejahteraan warga Kabupaten Tangerang. Ia menegaskan akan terus bersuara apabila menemukan kebijakan yang dinilai tidak sesuai fakta di lapangan.
“Selama menurut saya masih janggal di Kabupaten Tangerang, saya akan terus menyuarakan sesuai fakta yang ada,” tandasnya.
Penulis: Saepulloh
Editor: Usman Temposo
