
SERANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten menjadi organisasi perangkat daerah (OPD) dengan anggaran terbesar pada tahun 2026. Total alokasi yang diterima mencapai Rp3,437 triliun, melampaui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banten yang biasanya berada di posisi teratas.
Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Banten, Rina Dewiyanti, membenarkan bahwa sektor pendidikan memperoleh alokasi anggaran terbesar pada tahun anggaran 2026. Ia menyebutkan bahwa total anggaran tersebut meningkat dibandingkan alokasi tahun 2025 yang sebesar Rp3.299.751.120.673.
“Total anggaran mencapai Rp3.437.706.522.000,” ujar Rina, Jumat (12/12/2025).
Menurutnya, lonjakan terbesar dipicu oleh kebijakan pemerintah yang pada tahun 2026 mulai menjalankan program sekolah gratis untuk sekolah swasta tingkat SMA/SMK. Dari total anggaran tersebut, lebih dari Rp345 miliar dialokasikan khusus untuk program tersebut.
Setelah Dindikbud, OPD dengan anggaran terbesar berikutnya yaitu BPKAD Banten sebesar Rp2.109.364.193.554, disusul Dinas Kesehatan Rp1.020.968.436.000, Dinas PUPR Rp883.584.353.000, serta Sekretariat DPRD Provinsi Banten Rp450.287.030.000.
Adapun lima OPD dengan pagu anggaran terendah mencakup Biro Hukum Rp2.608.575.000, Biro Organisasi dan Reformasi Birokrasi Rp1.883.966.000, Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Rp1.690.672.000, Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Rp1.510.177.000, serta Biro Pengadaan Barang dan Jasa Rp834.983.000.
Terpisah, Wakil Gubernur Banten Ahmad Dimyati Natakusumah menegaskan bahwa alokasi anggaran Dindikbud memang menjadi yang terbesar karena adanya program sekolah gratis tersebut.
“Anggaran Dindik itu besar, tapi untuk infrastruktur sedikit. Kebanyakan untuk belanja rutin,” ujarnya.
Dimyati juga mengakui bahwa porsi belanja pegawai masih mendominasi penggunaan anggaran pendidikan. Ia berharap ke depan alokasi untuk fasilitas dan sarana penunjang pendidikan bisa ditingkatkan.
“Makanya harusnya dibanyakin lagi anggarannya,” katanya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Usman Temposo