Beranda Pemerintahan BPBD Sebut Sampah Sungai Jadi Pemicu Utama Banjir di Kota Serang

BPBD Sebut Sampah Sungai Jadi Pemicu Utama Banjir di Kota Serang

Salah satu titik banjir di Kota Serang. (Adef/bantennews)

SERANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang merilis catatan kebencanaan sepanjang Januari hingga November 2025. Data tersebut menunjukkan tingginya intensitas bencana, terutama banjir, yang masih menjadi ancaman utama di sejumlah wilayah.

Selama periode itu, tercatat 87 kejadian banjir melanda berbagai kecamatan di Kota Serang. Dampaknya cukup serius: 168 rumah mengalami kerusakan berat hingga roboh, disertai 68 kasus pohon tumbang dan delapan kejadian longsor yang tersebar di beberapa titik.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang, Diat Hermawan mengungkapkan bahwa Kecamatan Serang menjadi wilayah dengan jumlah banjir tertinggi.

“Dari total 87 kejadian, 49 di antaranya terjadi di Kecamatan Serang. Disusul Kecamatan Kasemen dengan 27 kejadian,” ujar Diat, Jumat (12/12/2025).

Menurutnya, kedua kecamatan tersebut hampir selalu menjadi titik rawan banjir saat musim hujan. Sementara kecamatan lain lebih sering mengalami genangan karena saluran drainase yang tidak berfungsi optimal.

Untuk kejadian longsor, BPBD mencatat empat insiden terjadi di Kecamatan Serang, tiga di Taktakan, dan satu di Kasemen. Pohon tumbang pun menjadi persoalan yang kerap terjadi, dengan 24 kasus di Kecamatan Serang dan 17 kejadian di Kasemen.

“Kasus rumah roboh paling banyak berada di Kasemen, mencapai sekitar 50 kejadian,” jelas Diat.

Dalam rangka mitigasi, BPBD menerjunkan 15 personel lengkap dengan dua perahu untuk melakukan penyisiran di aliran Sungai Cibanten. Hasilnya mengungkap persoalan klasik: tumpukan sampah rumah tangga yang menyumbat aliran sungai.

“Kami temukan sampah didominasi sampah rumah tangga. Kami berharap masyarakat tidak lagi membuang sampah ke aliran sungai,” ujarnya.

Selain sampah, vegetasi liar yang tumbuh dan menjulur ke arah sungai juga turut mempersempit aliran air.

Baca Juga :  Mahasiswa : Kota Serang Masih Jauh dari Smart City

“Banyak vegetasi yang condong ke arah sungai sehingga perlu dilakukan pemangkasan,” tambah Diat.

Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI), Kota Serang masuk kategori risiko kebencanaan tingkat sedang. Ada tujuh potensi bencana yang perlu diwaspadai, mulai dari banjir, longsor, puting beliung, hingga kekeringan.

“Longsor terutama ada di Taktakan karena kontur wilayah perbukitan, sedangkan puting beliung biasanya terjadi di Curug dan Walantaka,” terangnya.

Meski tingkat risiko tercatat menurun, BPBD mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.

“Turunnya nilai risiko bukan berarti ancaman hilang. Masyarakat tetap harus siaga menghadapi potensi bencana yang ada,” ujarnya.

Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd