Beranda Pendidikan 6 Tahun Menanti, Murid SDN 2 Padahayu Pandeglang Belajar di Kelas Retak...

6 Tahun Menanti, Murid SDN 2 Padahayu Pandeglang Belajar di Kelas Retak Tanpa Bangku

Murid SDN 2 Padahayu, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, mengikuti proses pembelajaran. (Mg-Madani Prasetia/bantennews)

PANDEGLANG – Di sebuah sudut Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, suara anak-anak mengeja pelajaran masih terdengar dari ruang kelas yang dindingnya retak. Tidak ada bangku belajar yang tersusun rapi.

Sebagian murid duduk di lantai dengan meja kecil di hadapan mereka. Di atas kepala, plafon yang mulai berlubang menjadi pengingat bahwa keselamatan mereka dipertaruhkan setiap hari demi mendapatkan pendidikan.

Pemandangan itu bukan terjadi sehari atau dua hari. Sudah hampir enam tahun murid SDN 2 Padahayu menjalani aktivitas belajar di bangunan yang terus menua tanpa sentuhan perbaikan.

Tiga ruang kelas dan satu ruang guru yang kini difungsikan sebagai ruang belajar mengalami kerusakan cukup parah. Retakan membelah dinding dan lantai, sementara bagian belakang bangunan mulai mengalami penurunan tanah yang diduga akibat kondisi tanah yang labil.

Namun, keterbatasan itu tidak mematahkan semangat belajar 57 siswa di sekolah tersebut. Mereka tetap datang setiap pagi, mengikuti pelajaran seperti anak-anak di sekolah lain, meski harus belajar tanpa kursi dan dengan rasa waswas setiap kali memasuki ruang kelas.

Kondisi SDN 2 Padahayu, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang. (Mg-Madani Prasetia/bantennews)

Kepala SDN 2 Padahayu, Tedy Rustandi, mengaku prihatin melihat kondisi sekolah yang dipimpinnya. Menurutnya, kerusakan bangunan terus memburuk karena terlalu lama dibiarkan.

“Sudah enam tahun rusak. Karena mungkin didiamkan-diamkan jadi tambah rusak. Bangunan yang rusak ini keseluruhan ada tiga kelas dan satu ruang guru, yaitu kelas 4, kelas 5 dan kelas 6. Seperti ini keadaannya,” kata Tedy, Rabu (22/7/2026).

Ia menjelaskan, retakan tidak hanya muncul di dinding, tetapi juga membelah lantai ruang kelas. Dugaan sementara, pergeseran tanah menyebabkan struktur bangunan ikut bergerak sehingga kerusakan terus meluas.

“Kerusakannya ini dinding belah, lantai belah. Mungkin tanahnya labil bergeser. Karena ada penurunan tanah, posisi tanahnya miring di belakang itu,” ujarnya.

Baca Juga :  PT MMS Dorong Ratusan Guru di Serang untuk Berkarya

Yang paling mengkhawatirkan, menurut Tedy, bukan sekadar bangunan yang tampak kusam, tetapi ancaman nyata terhadap keselamatan para siswa. Dinding yang retak dan plafon yang berlubang bisa runtuh sewaktu-waktu saat kegiatan belajar berlangsung.

“Nah itu, saya khawatir takut kena siswa. Tapi mau bagaimana lagi karena keadaannya seperti ini, pembelajaran tetap harus dilaksanakan. Saya kasih imbauan ke anak-anak dan guru untuk selalu hati-hati,” tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, para guru tetap mengajar. Para siswa tetap membuka buku dan mencatat pelajaran. Tidak ada pilihan lain selain bertahan, sembari berharap ruang kelas yang mereka tempati tidak berubah menjadi petaka.

Sebagai kepala sekolah, Tedy mengaku setiap hari dihantui rasa cemas. Ia tidak ingin semangat belajar anak-anak harus dibayar dengan risiko keselamatan.

“Saya sendiri merasa prihatin, kasihan kepada anak-anak. Takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Harapan itu sebenarnya sudah mulai terlihat. SDN 2 Padahayu telah masuk dalam daftar program revitalisasi sekolah.

Seluruh data administrasi juga telah diverifikasi. Namun hingga kini, sekolah tersebut masih berada dalam daftar tunggu pembangunan.

“Sekolah ini sudah masuk program revitalisasi, cuma mungkin giliran waiting list. Datanya sudah masuk, jadi mungkin menunggu giliran ketika mau dibangun. Kepala sekolah yang dulu sudah dipanggil sama operatornya. Dari dinas pendidikan juga datang, katanya akan secepatnya dibangun,” ujarnya.

Bagi Tedy, pembangunan sekolah bukan sekadar memperbaiki bangunan yang retak. Lebih dari itu, pembangunan menjadi jaminan agar anak-anak di pelosok memperoleh hak yang sama untuk belajar di ruang kelas yang aman dan layak, seperti siswa di sekolah negeri lainnya.

“Kami menginginkan sekolah ini segera dibangun, biar kondisi belajarnya kondusif. Kita enggak khawatir lagi, biar anak-anak tenang belajarnya. Biar ada pemerataan. Jadi ketika sekolah itu dibangun, sekolah ini juga dibangun. Artinya, kita pun sama-sama sekolah pemerintah,” tandasnya.

Baca Juga :  Todongkan Senpi, Perampok Satroni Alfamart di Lebak Terekam CCTV

Hingga berita ini diterbitkan, BantenNews.co.id masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang terkait tindak lanjut pembangunan SDN 2 Padahayu.

Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd