Beranda Pemerintahan 314 Hektare Sawah di Lebak Dihantam Kekeringan, Wilayah Kalanganyar Terparah

314 Hektare Sawah di Lebak Dihantam Kekeringan, Wilayah Kalanganyar Terparah

Kepala Distan Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar. (Mg-Aldo Marantika/bantennews)

LEBAK – Musim kemarau mulai menghantam sektor pertanian di Kabupaten Lebak. Sedikitnya 314 hektare sawah terdampak kekeringan, dengan Kecamatan Kalanganyar menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.

Data Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Banten, Laboratorium PHP Wilayah II, mencatat kerusakan tanaman padi terjadi pada periode 16–31 Juli 2026.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar mengatakan, dari 824 hektare lahan padi yang dipantau di 28 kecamatan, sekitar 38 persen sudah terdampak kekeringan.

“Kalanganyar menjadi wilayah dengan dampak paling besar. Kumulatif kerusakannya mencapai 227 hektare,” kata Rahmat, Senin (3/8/2026).

Ia merinci, di Kalanganyar terdapat 92 hektare sawah mengalami rusak ringan dan 92 hektare lainnya rusak berat. Untuk menekan kerugian petani, Dinas Pertanian mendorong panen lebih awal pada lahan seluas 43 hektare.

“Kami melakukan panen lebih awal di lahan seluas 43 hektare sebagai langkah mengurangi kerugian petani,” ujarnya.

Kekeringan juga meluas ke sejumlah kecamatan lain. Di Rangkasbitung, sebanyak 49 hektare sawah terdampak, terdiri atas 35 hektare rusak ringan dan 14 hektare rusak sedang.

Sementara itu, Cipanas mencatat tiga hektare sawah terdampak dan kini mendapat penanganan melalui pompanisasi. Di Muncang, dua hektare sawah terdampak dan mengandalkan curah hujan untuk penyelamatan tanaman.

Ancaman kerusakan juga membayangi sawah di Cibeber seluas dua hektare, Warunggunung enam hektare, Sajira lima hektare, serta Curugbitung tiga hektare.

Rahmat menjelaskan, dari total 314 hektare sawah terdampak, sebanyak 19 hektare mengalami rusak ringan, 128 hektare rusak sedang, dan 106 hektare rusak berat.

Ia berharap berbagai langkah penanganan, mulai dari panen lebih awal hingga pompanisasi, mampu menekan risiko gagal panen yang lebih luas.

Baca Juga :  Lima Desa di Pandeglang Dapat Angkutan Khusus

“Kami berharap intervensi yang dilakukan dapat mencegah kerusakan bertambah dan mengurangi potensi gagal panen,” pungkasnya.

Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd