Beranda Pemerintahan 23 Kecamatan di Kabupaten Serang Terpapar Abu Vulkanik GAK

23 Kecamatan di Kabupaten Serang Terpapar Abu Vulkanik GAK

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Serang Ajat Sudrajat saat memberikan keterangan. (Iyus/BantenNews.co.id)

KAB. SERANG — Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) terus meluas dan mulai mengganggu kualitas udara serta jarak pandang. Hingga, Senin (7/9/2026), pukul 15.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang mencatat 23 kecamatan terdampak abu vulkanik.

Sementara itu, dalam up date Badan Meteoroligi, Klimatologi dan Gesofisika (BMKG) pada pukul 14.00 WIB memantau sebaran abu vulkanik GAK yang masih bergerak dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat. Pada ketinggian tertentu, abu juga dapat mengganggu penerbangan.

BMKG memperkirakan abu vulkanik bergerak semakin jauh ke arah barat daya. Masyarakat di wilayah terdampak harus memantau kualitas udara dan jarak pandang serta mengikuti informasi resmi BMKG, PVMBG, dan instansi terkait.

BMKG menyebut, abu vulkanik terpantau hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer dan bergerak dominan ke arah barat dengan kecepatan sekitar 15 knot.

Pada lapisan rendah, abu meluas ke arah barat daya hingga barat laut dan mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, Bengkulu, serta perairan di sekitarnya

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Serang, Ajat Sudrajat mengatakan, aktivitas vulkanik GAK masih berlangsung meski episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam telah berakhir.

“Berdasarkan informasi Badan Geologi/PVMBG, episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau selama sekitar 25 jam telah berakhir. Aktivitas gunung api masih berlangsung berupa erupsi ringan secara berkala, dengan tingkat kegempaan masih tinggi,” kata Ajat.

Lebih lanjut, Ajat menuturka, GAK masih berada pada Level III atau Siaga. Pemerintah melarang masyarakat, wisatawan, dan pihak lain melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

BPBD Kabupaten Serang mencatat abu vulkanik telah menjangkau 23 kecamatan, yakni Anyer, Cinangka, Ciomas, Mancak, Pabuaran, Baros, Padarincang, Petir, Cikeusal, Bandung, Kramatwatu, Puloampel, Cikande, Carenang, Kibin, Kragilan, Pamarayan, Tanara, Bojonegara, Tunjungteja, Gunungsari, Binuang, dan Tirtayasa.

Baca Juga :  Tempat Hiburan Carista Ternyata Rumah Makan

Tiga wilayah terakhir, yakni Gunungsari, Binuang, dan Tirtayasa, masuk dalam pemutakhiran data terbaru.

Sebaran abu masih dinamis. Arah dan kecepatan angin dapat mengubah wilayah terdampak sewaktu-waktu.

Abu vulkanik dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, menurunkan jarak pandang, dan membuat jalan licin.

BPBD meminta warga menggunakan masker saat keluar rumah dan memakai pelindung mata jika abu mulai pekat. Warga juga harus mengurangi aktivitas di luar rumah ketika intensitas abu meningkat.

Pintu, jendela, dan ventilasi rumah perlu ditutup untuk mengurangi masuknya abu. Orang tua juga harus melindungi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan dari paparan langsung.

Untuk memperkuat pemantauan, DLH Kabupaten Serang memasang alat deteksi debu vulkanik di Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka. Sementara itu, Pusdalops BPBD Kabupaten Serang terus memantau kondisi dan berkoordinasi dengan berbagai unsur terkait.

Ajat mengubgkapkan, di tengah meluasnya abu vulkanik, BMKG mencatat probabilitas tsunami di Selat Sunda berada pada kategori rendah, kurang dari 50 persen, berdasarkan pemantauan hingga pukul 08.00 WIB.

Tsunami gauge juga tidak menunjukkan anomali muka air laut yang mengindikasikan tsunami.

Untuk itu, BPBD meminta masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Warga harus mengandalkan informasi resmi pemerintah dan instansi kebencanaan.

“Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap tenang, waspada dan mengikuti perkembangan informasi resmi pemerintah,” kata Ajat.

Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah