Beranda Sosial 15 Tahun Tinggal di Rumah Nyaris Ambruk, Suryadi di Lebak Menanti Bantuan...

15 Tahun Tinggal di Rumah Nyaris Ambruk, Suryadi di Lebak Menanti Bantuan yang Tak Kunjung Datang

Kondisi gubuk reyot yang ditempati Suryadi bersama keluarganya di Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten.

LEBAK — Di sudut Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, berdiri sebuah rumah kecil berukuran 3×4 meter yang nyaris ambruk. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang telah lapuk dimakan usia, atapnya bocor, dan sebagian bangunan harus disangga dengan tiang agar tidak roboh.

Di rumah itulah Suryadi (38) tinggal bersama istri dan dua anaknya selama 15 tahun terakhir.

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat berlindung yang aman dan nyaman. Namun bagi Suryadi, rumah justru menjadi sumber kekhawatiran. Setiap kali hujan turun, air merembes masuk ke dalam rumah. Angin kencang pun membuat bangunan itu bergoyang, seolah bisa roboh kapan saja.

“Kalau hujan, ya basah di dalam. Takut roboh juga, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya lirih saat ditemui, Minggu (26/4/2026).

Sehari-hari, Suryadi menggantungkan hidup dari pekerjaan serabutan sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu. Untuk menambah pemasukan, ia mencari kroto (telur semut rangrang) setiap akhir pekan. Namun penghasilan tersebut jauh dari cukup untuk memperbaiki rumahnya.

“Kadang dapat kerja, kadang tidak. Kalau Sabtu biasanya cari kroto,” katanya.

Kesempatan untuk merantau ke kota besar seperti Jakarta pun tak mampu ia ambil. Kondisi fisik yang lemah akibat kecelakaan saat kecil menjadi penghalang.

“Saya tidak kuat. Dulu pernah jatuh dari pohon kecapi waktu masih SD, sejak itu fisik saya lemah,” tuturnya.

Selama ini, bantuan dari pemerintah memang pernah ia terima, namun hanya sebatas bantuan sembako yang sifatnya sementara dan belum menyentuh kebutuhan utama, yakni perbaikan rumah.

“Alhamdulillah pernah dapat bantuan, tapi belum cukup untuk bangun rumah,” ungkap Suryadi.

Harapan untuk mendapatkan bantuan perbaikan rumah sebenarnya sudah berkali-kali ia sampaikan melalui pemerintah desa. Namun hingga kini, belum ada realisasi.

Baca Juga :  Jalan Penghubung Antar Kecamatan Rusak Parah

“Mengusulkan sering, tapi belum terealisasi,” katanya.

Sekretaris Desa Sukarendah, Sunatra, mengakui bahwa kondisi rumah tidak layak huni di wilayahnya masih menjadi persoalan serius. Setidaknya ada sekitar 10 rumah warga yang membutuhkan penanganan segera, dengan kondisi paling parah dialami Suryadi dan satu warga lainnya di Kampung Galura.

Menurutnya, pihak desa telah mengajukan bantuan ke sejumlah instansi terkait, seperti Dinas Sosial, BPBD, serta Dinas Perumahan dan Permukiman. Namun proses realisasi masih menunggu.

“Kami sudah ajukan, tetapi belum ada realisasi,” imbuh Sunatra.

Kisah Suryadi menjadi potret nyata persoalan kemiskinan yang masih membelit sebagian masyarakat di daerah. Di tengah kondisi rumah yang semakin rapuh, harapan itu tetap ada, meski tak kunjung pasti.

“Harapannya ada bantuan supaya bisa punya rumah yang lebih layak untuk keluarga,” ucapnya pelan.

Untuk saat ini, Suryadi hanya bisa bertahan, menunggu datangnya perhatian nyata dari pihak yang berwenang maupun dermawan yang tergerak membantu.

Penulis: Sandi Sudrajat

Editor: Usman Temposo