PANDEGLANG – Dari 29 trayek yang tercatat, sebanyak 10 trayek di Pandeglang sudah tidak aktif beroperasi karena minimnya penumpang dan berkurangnya armada.
Kondisi tersebut membuat sejumlah trayek angkutan umum di Pandeglang terancam mati. Persaingan dengan transportasi online, travel, hingga penggunaan kendaraan pribadi menjadi salah satu penyebabnya.
Kasi Angkutan pada Dishub Kabupaten Pandeglang, Yusep Yogianto mengatakan, dari total 29 trayek yang tercatat, sekitar 10 trayek saat ini sudah tidak beroperasi.
“Dari 29 trayek itu, yang tidak aktif kisaran ada 10 trayek tidak beroperasi. Sehingga otomatis jumlah armadanya berkurang dari 10 trayek yang tidak terisi,” katanya saat ditemui di Terminal Kadubanen, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, salah satu faktor utama yang membuat angkutan umum kehilangan penumpang adalah perubahan pilihan masyarakat dalam menggunakan transportasi.
Persaingan dengan travel dan transportasi online semakin kuat. Kondisi tersebut diperparah dengan beralihnya pelajar yang selama ini menjadi salah satu pengguna utama angkutan umum ke kendaraan pribadi maupun transportasi online.
“Sedangkan angkutan itu seperti angkot kan lebih banyaknya ke anak-anak sekolah. Bahkan anak sekolah pun beralihnya ke angkutan online itu sendiri,” ujarnya.
Di sisi lain, jumlah armada angkutan umum yang masih beroperasi di Pandeglang juga terus berkurang. Yusep memperkirakan saat ini terdapat sekitar 600 unit armada, baik yang berada pada trayek aktif maupun trayek yang sudah tidak terisi.
“Sekitar 600-an unit kurang lebih dari trayek yang tadi, baik terisi maupun tidak terisi,” katanya.
Sejumlah trayek bahkan disebut sudah tidak memiliki armada yang beroperasi. Salah satunya trayek Lintas Timur dari Artabuana menuju Cipacung.
“Sebagai salah satu contoh trayek yang tidak terisi itu di antaranya Lintas Timur, kebetulan armadanya tidak ada dari Artabuana sampai Cipacung. Sama seperti Kadubanen juga ada. Terus dari Lampe Labuan ke Pagelaran itu juga armadanya sudah tidak ada,” jelasnya.
Yusep menambahkan, persoalan angkutan umum bukan hanya soal jumlah penumpang. Faktor kenyamanan dan kelayakan kendaraan juga menjadi perhatian karena masyarakat kini semakin mempertimbangkan kondisi kendaraan sebelum memilih moda transportasi.
Ia menjelaskan, masih ada kendaraan angkutan umum yang belum menjalani pengujian kelayakan kendaraan secara optimal melalui Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB).
“Khususnya kami dari bidang angkutan sudah sering beberapa kali mengimbau ke pengemudi angkutan. Bahkan kita layangkan juga imbauan ke pemilik kendaraan itu sendiri,” pungkasnya.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : TB Ahmad Fauzi
