Beranda Sosial dan Budaya Wisata ke Banten Lama pada Masa Kolonial

Wisata ke Banten Lama pada Masa Kolonial

Istana Kaibon. (Foto : Troppenmuseum)

Pagi itu, awal November 1939 udara berkabut tipis di Alun-alun Serang. Sekira 50 pelancong dan peneliti yang berangkat dari Stasiun Weltevreden Batavia (kini Stasiun Gambir) tiba di Stasiun Serang pukul tujuh kurang seperempat.

Rombongan berkumpul di bagian selatan. Bus-bus yang akan mengantar mereka ke Banten Lama sudah menunggu di Alun-alun Serang.

Perjalanan ke Banten Lama dimulai pukul sembilan. Jangan bayangkan Alun-alun Serang seperti saat ini. Alun-alun Serang cuma tanah lapang dan terdapat pohon peringatan yang ditanam pada tahun 1898 untuk memperingati Ratu Wilhelmina. Di depannya ada tugu peringatan 40 tahun pemerintahan H.M. Ratu Wilhelmina.

Jika Sobat BantenNews.co.id bertanya di mana letak pohon besar itu, letaknya tepat di Monumen Juang yang berada di tengah antara Alun-alun Barat dan Alun-alun Timur Serang saat ini.

Pukul sembilan rombongan melanjutkan perjalanan ke Banten dan berhenti sejanak di makam Pangeran Astapati yang terletak di tepi Jalan Raya Banten, tepatnya di Kampung Odel. Pangeran Astapati sendiri bernama Pangeran Wirasuta berdarah Baduy. Ia merupakan Panglima Perang era Sultan Ageng Tirtayasa.

Setelah dari makam, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kaibon. Reruntuhan Kaibon, sejak dulu sudah menjadi magnet bagi fotografer dan videografer saat itu. “Ini membentuk objek yang indah untuk fotografer dan videografer, bahkan yang paling tidak acuh sekalipun,” tulis Het Nieuws Van Den Dag Vor Ned Indie, Kamis 9 November 1939.

Setelah lebih dari setengah jam, perjalanan dilanjutkan menuju Benteng Diamant (Benteng Surosowan). Orang Belanda, khususnya di kalangan para pelautnya, menyebut Surosowan sebagai Fort Diamant yang berarti “Benteng Berlian” karena denahnya menyerupai berlian berbentuk persegi enam.

Di sana, pertama-tama mereka melihat sebuah ceruk, yang mungkin merupakan gerbang masuk benteng di masa lalu. Di benteng ini juga terdapat Lara Denok yakni kolam pemandian para putri kesultanan Banten dengan tangga spiral yang khas. Ada juga Pancuran Mas di belakangnya yang juga disalurkan ke musala (Pasepian). Di sebelah barat kraton terdapat Masjid Agung Banten.

Rombongan melanjutkan perjalanan ke vihara Avalokitesvara dan ke Tasikardi. “Tempat kesenangan Sultan Ageng dengan danau buatan di mana orang sekarang dapat mendayung dengan perahu.” Dari Tasikardi kembali ke Banten Lama untuk melihat meriam Ki Amuk dan Benteng Speelwijk.

Sekira pukul satu siang rombongan menuju Sint Nicolaaspunt atau kini disebut Pelabuhan Merak untuk istirahat dan mandi di laut. Rombongan menikmati kakap dan ayam bakar di bawah pohon kelapa.

Pukul setengah tiga, rombongan bersiap ke Cilegon mengunjungi makam para korban Geger Cilegon tahun 1888. Pukul setengah enam mereka kembali ke Batavia.

(You/Red)