KAB. SERANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mulai mewaspadai potensi penyebaran hantavirus setelah muncul laporan kasus infeksi hantavirus di kapal pesiar.
Meski tergolong penyakit lama dan jarang ditemukan di Indonesia, hantavirus kini kembali menjadi perhatian karena penularannya berasal dari tikus dan kelompok rodensia lainnya.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Serang, Istianah Haryanti mengatakan, hantavirus termasuk penyakit zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
“Hewan penular utamanya tikus. Penularannya bukan langsung lewat udara, tetapi dari debu atau tangan manusia yang tercemar urine, kotoran, maupun air liur tikus lalu terhirup atau masuk ke tubuh,” kata Istianah saat dihubungi, Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan, gejala hantavirus hampir menyerupai infeksi virus pada umumnya, seperti demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, mual hingga muntah.
Namun, Istianah mengingatkan, infeksi hantavirus bisa berkembang menjadi kondisi serius. Pada beberapa kasus, virus menyerang ginjal hingga menyebabkan gagal ginjal.
Sementara pada kasus lain, virus menyerang saluran pernapasan dan memicu pneumonia berat hingga sesak napas yang berujung kematian.
Selain hantavirus, Dinkes Kabupaten Serang juga mengingatkan masyarakat terhadap ancaman leptospirosis yang sama-sama berasal dari tikus. Penyakit itu muncul akibat bakteri dari urine tikus yang mencemari air.
“Leptospirosis bisa menyerang liver sampai tubuh menguning dan juga mengganggu fungsi ginjal,” ujarnya.
Karena itu, Istianah meminta masyarakat meningkatkan kebersihan lingkungan dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Ia menekankan pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas.
“Sabun bisa membunuh virus maupun kuman penyebab penyakit,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat memakai alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan penutup kepala saat membersihkan area yang berpotensi tercemar kotoran tikus.
Menurutnya, penggunaan APD sejalan dengan gerakan ASRI yang digaungkan Presiden RI Prabowo Subianto untuk menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Istianah turut meminta pengelola pasar, alun-alun, dan ruang publik aktif mengendalikan populasi tikus dengan memasang perangkap serta menjaga kebersihan sampah dan sisa makanan.
“Tikus selalu mencari sumber makanan. Kalau lingkungan bersih, potensi tikus datang juga berkurang,” ujarnya.
Untuk memperluas edukasi, Dinkes Kabupaten Serang kini memanfaatkan media sosial puskesmas melalui Instagram, Facebook, dan TikTok agar informasi kesehatan lebih cepat menjangkau masyarakat.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah
