Beranda Pemerintahan Warga Terdampak Gempa Pandeglang Tagih Bantuan Dana Renovasi dari Pemerintah Pusat

Warga Terdampak Gempa Pandeglang Tagih Bantuan Dana Renovasi dari Pemerintah Pusat

445
0
Camat Mandalawangi, Entus Bakti

PANDEGLANG – Warga di Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Lebak yang rumahnya terdampak gempa pada Jumat (2/8/2019) lalu masih menunggu bantuan renovasi rumah seperti yang dijanjikan Menteri Sosial Republik Indonesia saat meninjau lokasi gempa.

Camat Mandalawangi, Entus Bakti mengatakan, data kerusakan akibat gempa bumi sudah disampaikan sejak 5 Agustus sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh pemerintah.

Menurut Entus, data awal yang disampaikan Bupati Pandeglang ada 157 bangunan rusak terdiri dari 3 bangunan sekolah, 6 bangunan tempat peribadatan dan 148 rumah warga. Namun setelah tim verifikasi dari Kementerian Sosial turun ke lapangan jumlah itu bertambah lagi sebanyak 9 bangun, sehingga totalnya sebanyak 166 bangunan rusak di Kecamatan Mandalawangi.

“Alhamdulillah datanya sudah lengkap. Jadi pasca verifikasi nambah 9 bangunan dari 157 data awal yang kami laporkan, tim verifikasi juga sudah turun,” kata Entus usai mengikuti upacara HUT Pramuka di Alun-alun Pandeglang, Rabu (14/8/2019).

Entus menyampaikan, sejauh ini bantuan dari berbagai pihak sudah banyak berdatang, namun tidak semua bantuan datang langsung ke kecamatan, tetapi ada juga yang disalurkan langsung kepada para korban baik oleh dinas atau instansi lain.

Namun untuk kepastian kapan dana bantuan rehab rumah diterima oleh warga, ia juga belum bisa menyampaikannya, alasannya karena masih menunggu kabari dari pemerintah pusat.

“Kalau itu (dana untuk rehab rumah), mungkin tim verifikasi yang kemarin turun untuk menentukan mana rumah yang rusak berat, sedang dan ringan. Sepertinya itu yang akan jadi patokan, dananya berapa saya kurang tahu. Secepatnya,” terangnya.

Sejauh ini, warga yang rumahnya mengalami rusak berat tinggal di rumah kerabatnya. Kata Entus, hal itu lantaran sistem kekerabatan di daerah yang ia pimpin masih sangat kental.

“Karena sistem kekerabatan, jadi ada yang tinggal di rumah ibunya atau adiknya, jadi penanganan pasca gempa ini karena sistem kekerabatan kuat, jadi itu yang kami anggap tidak perlu ada posko. Saya sering pantau ke lapangan kebanyakan mereka tinggal di rumah kerabatnya,” tutupnya. (Med/Red)