LEBAK – Harga minyak goreng MinyaKita di sejumlah pasar dan toko kelontong di Kabupaten Lebak menembus Rp21 ribu per liter. Kenaikan harga tersebut memicu keluhan warga karena menambah beban pengeluaran rumah tangga di tengah naiknya berbagai kebutuhan pokok.
Pedagang mengaku harga Minyakita dari distributor sudah mencapai Rp20 ribu per liter. Kondisi itu membuat mereka hanya memperoleh keuntungan tipis sekitar Rp1.000 per liter.
“Untungnya sekitar seribu rupiah per liter. Tidak besar karena harga modal juga sudah tinggi,” kata Tatang, pedagang di Lebak, Rabu (17/6/2026).
Menurut Tatang, kenaikan biaya distribusi ikut mendorong harga minyak goreng di tingkat pengecer. Selain harga barang yang naik, ongkos pengiriman juga bertambah sehingga pedagang menyesuaikan harga jual kepada konsumen.
“Banyak biaya yang naik, termasuk ongkos kirim. Akhirnya harga jual ikut menyesuaikan,” ujarnya.
Keluhan juga datang dari kalangan ibu rumah tangga. Yuliani mengaku semakin kesulitan mengatur pengeluaran dapur karena harga Minyakita terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir.
“Sekarang saja sudah mahal. Kalau nanti naik lagi tentu makin berat buat kami. Penghasilan tidak naik, sementara kebutuhan terus bertambah,” kata Yuliani.
Ia menilai kenaikan harga minyak goreng sangat berdampak karena kebutuhan tersebut hampir digunakan setiap hari untuk memasak.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Rully Edward, mengaku pihaknya belum memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi harga secara langsung.
Meski demikian, Disperindag terus memantau perkembangan harga di lapangan dan mengawasi distribusi barang.
“Kalau kita tidak bisa langsung intervensi, tapi kita akan terus awasi dan meminta para pelaku usaha untuk tidak memanfaatkan momen tersebut untuk meraup untung lebih,” ujar Rully.
Kenaikan harga Minyakita ini menambah daftar komoditas yang membebani masyarakat. Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok agar daya beli masyarakat tidak semakin tergerus.
Penulis : Sandi Sudrajat
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
