LEBAK – Warga korban banjir bandang yang hingga kini masih tinggal di hunian sementara (huntara) di Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten, mengeluhkan belum adanya kejelasan pembangunan hunian tetap (huntap) meski bencana telah berlalu selama enam tahun.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak mengakui belum mampu merealisasikan pembangunan huntap akibat keterbatasan anggaran daerah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Sukanta, mengatakan bahwa ruang fiskal Pemkab Lebak sangat terbatas sehingga belum dapat memaksimalkan penanganan bagi korban banjir bandang.
“Anggaran kita cukup kecil, jadi belum bisa memaksimalkan penanganan untuk korban banjir bandang,” kata Sukanta kepada awak media, Selasa (13/1/2026).
Meski demikian, ia menegaskan Pemkab Lebak terus berupaya agar pembangunan huntap dapat segera terealisasi, salah satunya dengan menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah pusat.
“Pertama, kita terus mem-push dan memotivasi BNPB agar pada tahun 2026 ini bisa mengusulkan anggaran pembangunan huntap ke Kementerian Keuangan,” ujarnya.
Sukanta menjelaskan, Pemkab Lebak sebenarnya telah menyiapkan lahan seluas 5,4 hektare yang akan digunakan sebagai lokasi pembangunan huntap bagi warga korban banjir bandang.
“Lahannya sudah ada, seluas 5,4 hektare. Namun karena keterbatasan anggaran, Pemkab Lebak belum mampu melakukan pematangan lahan,” ungkapnya.
Untuk itu, Pemkab Lebak juga telah meminta dukungan Pemerintah Provinsi Banten agar proses pematangan lahan dapat segera dilakukan.
“Ke Pemerintah Provinsi Banten, kami memohon agar pelaksanaan cut and fill hingga pematangan lahan seluas 5,4 hektare tersebut bisa dilaksanakan oleh Pemprov,” jelas Sukanta.
Ia berharap, apabila lahan sudah siap, pembangunan huntap bagi warga Cigobang dapat segera direalisasikan.
Sementara itu, salah seorang warga huntara, Zaenudin, mengaku sudah jenuh dan kecewa dengan janji-janji pemerintah yang hingga kini belum terealisasi.
“Kami sudah bosan dan kecewa dengan janji-janji pemerintah. Dari dulu sampai sekarang hanya janji, tapi kenyataannya tidak ada,” ucapnya.
Zaenudin membandingkan kondisi warga Cigobang dengan korban banjir bandang di Kabupaten Bogor yang dinilainya mendapat penanganan lebih cepat.
“Di Kabupaten Bogor, korban banjir bandang bisa cepat mendapatkan huntap. Sementara kami di Lebak sudah enam tahun masih tinggal di huntara dengan kondisi yang memprihatinkan,” katanya.
Ia mengakui rasa iri dan kekecewaan warga semakin memuncak karena merasa tidak lagi diperhatikan oleh pemerintah daerah.
“Kalau dibilang iri, jelas kami iri. Warga Huntara Cigobang merasa Pemkab Lebak sudah tidak memperhatikan rakyatnya yang masih sengsara,” pungkasnya.
Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Usman Temposo
