
TANGSEL – Ketidakpuasan terhadap hasil Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berbuntut panjang.
Dalam sepekan terakhir, aksi protes meledak di sejumlah titik. Warga menutup akses ke sekolah-sekolah negeri, menuntut agar anak-anak dari lingkungan sekitar mendapat prioritas masuk.
Gelombang aksi terbaru terjadi pada Jumat (4/7/2025), di SMAN 10 Tangsel, Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat.
Ratusan warga datang membawa spanduk protes dan menutup pintu gerbang sekolah menggunakan bambu dan ban bekas. Aksi dilakukan setelah sejumlah anak dari lingkungan sekitar sekolah tidak diterima.
“Banyak anak dari RT kami tidak lolos, padahal rumah mereka hanya selemparan batu dari sekolah,” kata Mulyatno Anas kepada wartawan.
Warga menilai sistem zonasi justru merugikan mereka yang tinggal tepat di sekitar sekolah. Mereka meminta pihak sekolah menyuarakan kembali aspirasi masyarakat lokal kepada otoritas pendidikan.
Sehari sebelumnya, Kamis (3/7/2025), protes serupa terjadi di kawasan Pamulang Permai, tepatnya di depan SMAN 6 Tangsel.
Warga menutup beberapa ruas jalan menuju sekolah. Mereka membawa tuntutan serupa: agar anak-anak yang tinggal paling dekat mendapat prioritas masuk.
“Anak saya cuma berjarak tujuh meter dari sekolah, tapi tidak diterima. Ini zonasi model apa?,” kata Suhendar, salah seorang warga, saat aksi berlangsung.
Menurut dia, warga telah berupaya menjalin komunikasi dengan pihak sekolah, namun belum mendapatkan solusi. Blokade jalan kemudian dilakukan sebagai bentuk desakan agar tuntutan mereka dipertimbangkan.
Rangkaian protes ini bermula dari aksi pada Rabu (2/7/2025), di depan SMAN 3 Tangsel, kawasan Benda Baru, Kecamatan Pamulang.
Puluhan warga dari RW 010 hingga RW 016 yang menamai diri mereka Wong Pitu menggelar demonstrasi karena sebagian besar anak-anak mereka gagal masuk.
Salah seorang warga RW 015, Aan, menyebut dari 64 anak yang mendaftar, hanya 16 yang diterima. Ia mengungkapkan bahwa lahan sekolah tersebut sebelumnya merupakan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum) milik warga.
“Saat sekolah ini akan dibangun, ada kesepakatan tidak tertulis: warga sekitar harus diprioritaskan. Tapi nyatanya sekarang justru mereka tersingkir,” ujar Aan.
Aksi di SMAN 3 Tangsel ditutup dengan pemasangan portal besi sepanjang lima meter yang menutup total akses kendaraan ke sekolah.
Hingga Sabtu (5/7/2025), belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan maupun Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Sementara itu, warga menyatakan akan terus melakukan penutupan akses hingga ada kebijakan yang mereka anggap adil dan berpihak pada lingkungan sekitar.
Penulis: Mg-Ahmad Rizki
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd