
LEBAK – Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, mengingatkan para lulusan pesantren agar tidak hanya mengandalkan bekal ilmu agama saat memasuki kehidupan di tengah masyarakat. Menurutnya, tantangan yang akan dihadapi para santri setelah meninggalkan lingkungan pesantren jauh lebih kompleks dibandingkan saat masih berada di dalam asrama.
Pesan itu disampaikan Dimyati saat menghadiri Wisuda Santri Angkatan I Tahun 2026 di Pondok Pesantren Modern Al Khanza, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Sabtu (20/6/2026).
Di hadapan para santri dan wali murid, Dimyati menggambarkan kehidupan setelah lulus sebagai perjalanan panjang yang tidak selalu berjalan mulus. Berbagai godaan, tantangan, hingga kegagalan disebutnya bisa menjadi ujian yang menentukan arah masa depan para lulusan pesantren.
“Setelah lulus pasti akan berlayar di kehidupan. Akan ada badai, topan, panas dan hujan. Kalau tetap lurus, ikhlas dan sabar, kalian bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Dimyati.
Menurutnya, keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari kemampuan memahami ilmu agama, tetapi juga dari kemampuan menjaga akhlak dan konsistensi dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Dalam kesempatan tersebut, Dimyati juga menyampaikan apresiasi kepada kalangan pesantren yang selama ini berperan dalam mendukung pendidikan masyarakat. Ia menilai lembaga pendidikan berbasis pesantren masih menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan sumber daya manusia di daerah.
Selain memberikan motivasi kepada para santri, Dimyati turut memaparkan pandangannya mengenai empat tipe manusia dalam menghadapi masalah. Ia menyebut ada kelompok yang hanya memperbesar persoalan, kelompok yang sekadar mengeluhkan keadaan, kelompok yang berupaya mencari solusi, hingga kelompok yang mampu menerima setiap ujian dengan rasa syukur.
Menurut Dimyati, karakter terakhir menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai perubahan dan ketidakpastian yang terjadi di masyarakat saat ini.
Tak hanya itu, ia juga memperkenalkan makna singkatan “SANTRI” yang menurutnya mencerminkan nilai-nilai yang harus dimiliki para lulusan pesantren. Mulai dari ilmu pengetahuan, akhlak, kecintaan terhadap negara, ketaatan, sikap ramah, hingga iman dan takwa.
Sementara itu, Pimpinan Ponpes Al Khanza, KH Ade Bujairimi, mengatakan lembaga yang dipimpinnya berupaya menggabungkan sistem pendidikan modern dengan tradisi pendidikan salafiyah yang selama ini menjadi ciri khas pesantren.
Menurutnya, perpaduan kedua sistem tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Wisuda angkatan pertama ini menjadi tonggak awal perjalanan Ponpes Al Khanza dalam mencetak lulusan pesantren. Namun tantangan berikutnya justru berada di luar lingkungan pendidikan, yakni bagaimana para santri mampu mempertahankan nilai-nilai yang diperoleh selama belajar ketika berhadapan dengan realitas sosial yang semakin dinamis.
Tim Redaksi