Beranda Pendidikan Viral Pra Ospek di Untirta Diduga Jadi Ajang Perpeloncoan

Viral Pra Ospek di Untirta Diduga Jadi Ajang Perpeloncoan

Suasana pra ospek Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (Istimewa)

SERANG – Nama Universitas Sultan Ageng Tirtayasa atau biasa disebut Untirta hangat diperbincangkan di Twitter. Persoalan kegiatan pra Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (pra-Ospek) di perguruan tinggi negeri yang berada di Kota Serang, Provinsi Banten itu disebut-sebut menjadi suatu ajang perpeloncoan.

Dalam sebuah cuitan dari salah satu akun yang diunggah pada Selasa (9/8/2022) pukul 23.50 WIB, menyebutkan kegiatan ospek universitas itu melakukan hal yang tak sewajarnya kepada mahasiswa baru (maba).

Para maba dijemur dari pukul 07.00 WIB hingga sore di lapangan terbuka tanpa diberikan makanan apapun hingga beberapa maba pingsan. Tak hanya itu, para senior yang melakukan kegiatan tersebut juga diduga melakukan kekerasan fisik serta verbal kepada para maba.

Salah satu mahasiswa Untirta mengatakan dirinya pernah mengalami hal serupa saat menjadi maba pada 4 tahun yang lalu. Namun, ketika hal itu menimpa dirinya, ia bingung untuk melaporkannya ke mana.

“Aku ngalamin juga, dulu apalagi nametag hilang langsung dicatat,” ujarnya ketika dihubungi pada Rabu (10/8/2022).

Terkait hal tersebut, Koordinator Humas dan Kerjasama Untirta Veronika Dian Faradisa dalam pers rilisnya menyatakan kegiatan yang viral di media sosial merupakan Technical Meeting yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa (BEM KBM) Untirta.

“Kegiatan Technical Meeting yang dilaksanakan oleh BEM KBM Untirta merupakan inisiatif BEM KBM Untirta dalam mempersiapkan mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB),” ujarnya dalam keterangan pers pada Rabu (10/8/2022).

Sedangkan terkait viralnya kegiatan yang diduga menjadi ajang perpeloncoan itu, Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KBM Untirta Ryco Hermawan dalam keterangannya mengatakan para maba yang mengikuti ospek dikumpulkan di lapangan terbuka untuk pengambilan gambar video mozaik selama 2 jam namun dalam prosesnya pengambilan gambar tidak sesuai waktu yang ditentukan.

“Estimasi waktu yang direncanakan untuk pengambilan gambar video mozaik adalah dua jam, tetapi proses pengambilan gambar tidak sesuai dengan estimasi,” kata Ryco.

Sementara itu, perihal adanya kekerasan fisik dan verbal hingga larangan makan, minum, istirahat, dan salat yang dilakukan oleh panitia pra ospek, Ryco menyebutkan panitia telah meminta peserta untuk sarapan terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan dan membawa bekal makanan dan minuman untuk makan siang pada waktu istirahat. Sedangkan untuk sholat, diberikan waktu sesuai dengan jadwal istirahat selama dua jam, yaitu mulai dari pukul 11.00 WIB sampai dengan 13.00 WIB yang diatur secara bergiliran.

“Terkait beredarnya informasi mengenai kekerasan fisik dan verbal dari Gerakan Disiplin Kampus (GDK) kepada mahasiswa baru, sebelum pelaksanaan Technical Meeting, BEM KBM Untirta telah menyusun Standard Operating Procedure (SOP) dan melaksanakan Training of Trainer (ToT) bagi mahasiswa yang akan terlibat dalam kepanitiaan dengan harapan tidak terjadi kontak fisik dan kekerasan verbal kepada mahasiswa baru,” jelas Ryco.

Terkait kasus viral tersebut, Pihak Untirta mengimbau kepada seluruh maba dan pihak lainnya yang mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dalam bentuk apapun selama kegiatan pra ospek untuk dapat melaporkannya melalui Hotline Humas Untirta (0822-9897-9737) dengan menyertakan identitas diri yang resmi dan jelas. (Nin/Red)