
SERANG – Sebuah akun TikTok bernama @tiyandm dengan nama profil Tiyandi Mulya menjadi perbincangan di media sosial setelah mengunggah sejumlah video yang memperlihatkan aktivitas di area tambang yang diduga berada di wilayah Bojonegara–Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Video-video tersebut menampilkan kunjungan ke lokasi tambang, alat berat, kendaraan mewah, hingga aktivitas bersama sejumlah orang di kawasan pertambangan diduga seorang investor dari Singapura dan China. Beberapa unggahannya telah ditonton puluhan ribu kali dan memicu ratusan komentar dari warganet.
Warganet juga menyoroti kehidupan mewah pengusaha tambang tersebut, namun berbanding terbalik dengan kondisi warga terdampak usaha tambang yang dijalaninya.
Pantauan dari akun tersebut pada Kamis (6/8/2016) menunjukkan salah satu video memperoleh lebih dari 58 ribu tayangan, sementara video lainnya ditonton lebih dari 21 ribu kali.
Namun, kolom komentar justru dipenuhi kritik dari warga yang mengaku terdampak aktivitas tambang. Mayoritas tidak mempersoalkan keberadaan usaha pertambangan, tetapi meminta pengelola lebih memperhatikan dampak lingkungan dan kenyamanan masyarakat.
Salah satu komentar yang mendapat ratusan tanda suka berbunyi:
“Mas, kita tidak melarang usaha apa pun, termasuk usaha tambang di wilayah Bojonegara–Pulo Ampel. Namun, mohon tingkatkan sistem pengendalian debunya. Tolong pertimbangkan juga dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Kita semua ingin bisa hidup berdampingan.”
Menanggapi komentar tersebut, akun @tiyandm membalas:
“Terima kasih masukannya sangat positif sekali.”
Pada komentar lain yang mengusulkan pembangunan jalan khusus untuk truk tambang agar tidak mengganggu pengguna jalan umum, akun tersebut menjawab:
“Kami juga sebagai pengusaha menyuarakan hal yang sama ke pemerintah provinsi, dan sepertinya pemerintah sedang mengupayakan hal tersebut.”
Akun tersebut juga menyatakan akan terus melakukan pembenahan dalam sistem penambangan.
“Kami selalu berbenah untuk sistem dan dampak yang lebih baik. Kami pasti melakukan sistem penambangan melalui mekanisme teknik penambangan yang sesuai dengan peraturan,” tulis akun itu.
Meski demikian, tidak sedikit warganet yang tetap menyampaikan keluhan. Beberapa di antaranya menyinggung persoalan debu, kemacetan, banjir, hingga kerusakan lingkungan yang disebut lebih banyak dirasakan masyarakat sekitar.
Komentar lain yang muncul antara lain menyebut:
“Keruk terus, yang nikmatin duit, kita dapat kerusakannya aja.”
“Gak usah bawa-bawa masyarakat setempat, justru kita masyarakat setempat yang selalu kena dampak negatif terus. Debu, macet, banjir.”
“Positif untuk di kantong kalian, negatifnya wilayah sekitar.”
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari instansi pemerintah terkait mengenai lokasi tambang yang tampil dalam video tersebut maupun dugaan dampak lingkungan yang dikeluhkan warga.
Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin