
CILEGON – Usulan penetapan tokoh perlawanan Banten, Ki Wasyid, sebagai Pahlawan Nasional kembali mengemuka dalam peringatan Istighosah dan Haul Syuhada Geger Cilegon 1888 yang digelar Pemerintah Kota Cilegon di Halaman Rumah Dinas Wali Kota Cilegon, Jumat (10/7/2026) malam. Sejumlah tokoh menilai jasa Ki Wasyid dalam memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda telah memenuhi syarat untuk memperoleh penghargaan tertinggi dari negara.
Kegiatan yang dihadiri ulama, habaib, keturunan pejuang Geger Cilegon, tokoh masyarakat, hingga unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) itu tidak hanya menjadi ajang doa bersama bagi para syuhada, tetapi juga menjadi ruang untuk mengingat kembali peran penting para ulama dalam sejarah perjuangan bangsa.
Ketua Pelaksana Haul yang juga ahli waris keturunan keempat Ki Wasyid, Asep Sofwatullah, mengatakan perjuangan Ki Wasyid bersama para ulama dan masyarakat Cilegon memiliki nilai sejarah yang besar bagi Indonesia. Karena itu, ia berharap pemerintah pusat dapat segera menetapkan Ki Wasyid sebagai Pahlawan Nasional.
“Kami berharap Ki Wasyid dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Perjuangan beliau bersama para ulama dan masyarakat Cilegon telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan patut mendapatkan penghormatan yang setinggi-tingginya,” ujar Asep.
Menurut Asep, pelaksanaan haul setiap tahun bukan hanya bertujuan mendoakan para syuhada, tetapi juga menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah perjuangan para pendahulu.
Ia menilai generasi muda perlu memahami sejarah agar mampu mengambil pelajaran dari perjuangan para ulama yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan agama dan tanah air.
“Orang-orang yang hadir malam ini adalah mereka yang memahami pentingnya sejarah. Sejarah akan terus berulang apabila kita tidak mau mempelajarinya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang belajar dari sejarah, memahami kekurangan masa lalu, lalu memperbaikinya untuk generasi berikutnya,” katanya.
Dukungan terhadap usulan tersebut juga datang dari Sultan Ageng Tirtayasa ke-9, Tubagus Abdul Basit. Menurutnya, Ki Wasyid memiliki kontribusi besar dalam perjuangan melawan kolonialisme sehingga layak memperoleh pengakuan resmi dari negara.
“Saya akan mengawal perjuangan agar Ki Wasyid diangkat menjadi Pahlawan Nasional, karena memang itu adalah hak beliau atas jasa dan pengorbanannya bagi bangsa dan negara,” tegas Basit.
Sementara itu, mewakili Wali Kota Cilegon, Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan dan Hukum, Panca N. Widodo, mengatakan Haul Syuhada Geger Cilegon bukan sekadar agenda mengenang sejarah, melainkan momentum untuk menanamkan kembali nilai-nilai perjuangan kepada masyarakat.
Menurutnya, Peristiwa Geger Cilegon 1888 menjadi salah satu tonggak penting perlawanan rakyat terhadap penjajahan. Perjuangan yang dipimpin para ulama membuktikan bahwa semangat melawan penindasan lahir dari kekuatan iman, pesantren, dan masjid.
“Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan keberanian melawan penjajah, maka hari ini perjuangan kita adalah menjaga persatuan, memperkuat pendidikan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membangun pemerintahan yang melayani, serta menyiapkan generasi muda yang berakhlak mulia dan mencintai sejarah bangsanya,” ujar Panca.
Ia menambahkan sejarah harus menjadi sumber inspirasi dalam pembangunan daerah sekaligus memperkuat identitas Kota Cilegon sebagai kota yang religius, berbudaya, dan berkarakter.
Peristiwa Geger Cilegon yang terjadi pada 9 Juli 1888 merupakan salah satu perlawanan terbesar rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda. Gerakan tersebut dipimpin Ki Wasyid bersama sejumlah ulama dengan melibatkan masyarakat dari berbagai wilayah di Cilegon dan sekitarnya.
Meski berhasil dipadamkan oleh pemerintah kolonial dan banyak pejuang gugur maupun dihukum, peristiwa itu dikenang sebagai simbol keberanian rakyat Banten dalam melawan penjajahan. Hingga kini, berbagai kalangan terus mendorong agar jasa Ki Wasyid memperoleh pengakuan negara melalui penetapan sebagai Pahlawan Nasional.
Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin