SERANG – Pemerintah Provinsi Banten terus berkomitmen menjaga kelestarian laut dan keberlanjutan sektor perikanan. Pemerintah mengembangkan perikanan demersal berkelanjutan melalui penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dan penerapan teknologi Automatic Identification System (AIS) di perairan Teluk Banten.
Provinsi Banten memiliki tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) dengan karakteristik dan potensi berbeda. Pemerintah mendorong masyarakat memanfaatkan sumber daya laut secara optimal tanpa merusak ekosistem. Nelayan perlu mematuhi aturan penangkapan, menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, dan menyesuaikan zona penangkapan sesuai jenis alat.
Kolaborasi UNTIRTA dan DKP Banten
Sebagai langkah inovatif, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Banten mengembangkan perangkat AIS bernama AISALAKA. Mereka akan memasang teknologi ini pada kapal nelayan yang menggunakan bubu lipat, bubu naga, dan jaring hela dasar yang telah dimodifikasi dengan Turtle Excluder Device (TED) agar penangkapan lebih selektif dan ramah lingkungan.
Nelayan mengikuti pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan alat tangkap ramah lingkungan serta memanfaatkan AISALAKA untuk memantau lokasi kapal. Kelompok nelayan dari Kabupaten Serang dan Kota Serang menyambut program ini dengan antusias dan aktif berdiskusi demi mewujudkan pengelolaan perikanan berkelanjutan.
Dukungan Pemerintah dan Manfaat AISALAKA
Gubernur Banten Andra Soni dan Wali Kota Serang Budi Rustandi mendukung penuh program ini. Keduanya menyaksikan langsung penggunaan AISALAKA dalam memantau pergerakan kapal di Teluk Banten. AISALAKA tidak hanya memantau kapal, tetapi juga menyediakan fitur prediksi daerah penangkapan ikan untuk membantu nelayan menghemat bahan bakar.
Menurut Prof. Dr. Adi Susanto, ketua tim pelaksana program, AISALAKA juga memiliki fitur darurat yang membantu nelayan saat kecelakaan di laut, seperti tabrakan atau kapal tenggelam. Sistem ini dapat mendeteksi kapal lain sehingga mencegah insiden, terutama dengan kapal non-perikanan yang sering melintas di Teluk Banten.
Ramah Lingkungan dan Menjaga Kelestarian
Pemerintah menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap jalur penangkapan ikan. Misalnya, nelayan harus mengoperasikan jaring hela dasar yang dilengkapi TED pada zona 2–4 mil dari garis pantai. AISALAKA memantau pergerakan kapal secara real-time dan membantu pengawasan ketika terjadi pelanggaran.
Penggunaan alat tangkap ramah lingkungan juga meningkatkan selektivitas penangkapan. Dengan cara ini, hewan laut kecil seperti juvenil rajungan, cumi-cumi, dan ikan demersal tidak ikut tertangkap. Langkah ini penting untuk menjaga populasi ikan tetap lestari dan menjamin keberlanjutan mata pencaharian nelayan.
Harapan ke Depan
Kepala DKP Banten, Eli Susiyanti, berharap penerapan AISALAKA dan alat tangkap ramah lingkungan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan perikanan demersal, menambah pendapatan nelayan, dan melestarikan sumber daya laut. Pemerintah berencana mengembangkan teknologi ini ke wilayah perairan lain di Banten pada masa mendatang.
