
SERANG – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) berhasil mendapatkan pendanaan Program Partenariat Hubert Curien (PHC) Nusantara 2026 melalui kolaborasi penelitian dengan Plant Health Institute Montpellier (PHIM), Prancis.
Program tersebut mempertemukan peneliti Untirta dan akademisi Prancis untuk meneliti keragaman patogen jamur yang menyerang tanaman pisang. Kolaborasi ini sekaligus memperkuat jejaring riset internasional Untirta.
Untirta menandai kerja sama tersebut melalui penandatanganan perjanjian penelitian di Ruang Multimedia Convention Hall, Kampus Untirta Sindangsari, Senin (14/9/2026).
Kegiatan bertajuk “PHC Nusantara 2026: Best Practice International Research Collaboration Indonesia and France” itu menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-45 Untirta.
Rektor Untirta Prof. Fatah Sulaiman mengatakan kolaborasi internasional menjadi salah satu strategi kampus untuk meningkatkan kualitas riset.
“Agenda ini penting dan strategis untuk meningkatkan kualitas riset, khususnya di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Kolaborasi tidak hanya pada tingkat lokal dan regional, tetapi juga internasional,” ujar Fatah.
Menurut Fatah, kerja sama dengan institusi penelitian luar negeri memberi kesempatan kepada peneliti Untirta untuk bertukar pengetahuan, memperluas jejaring akademik, dan meningkatkan kualitas hasil penelitian.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untirta Prof. Meutia berharap keberhasilan tersebut mendorong lebih banyak dosen dan peneliti membangun kolaborasi dengan mitra internasional.
“Kami sangat berharap ke depannya semakin banyak dosen lain yang bisa membuat kolaborasi riset,” kata Meutia.
Tiga Kali Mengajukan, Akhirnya Lolos
Kepala Banana Research Center Untirta Nani Maryani mengatakan tim peneliti membutuhkan proses panjang untuk mendapatkan pendanaan PHC Nusantara 2026. Tim bahkan harus mengajukan proposal sebanyak tiga kali sebelum berhasil lolos.
Menurut Nani, kompetisi program tersebut cukup ketat. Tahun ini hanya 15 proposal yang terpilih sebagai penerima hibah.
“Kami sangat bersyukur Untirta dapat masuk dalam daftar penerima hibah ini dan berdiri sejajar dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Pencapaian ini merupakan hasil perjuangan panjang tim. Ini ikhtiar ketiga kami setelah gagal dua kali,” ujar Nani.
Penelitian tersebut mempertemukan kepakaran Nani dalam penyakit layu Fusarium dengan keahlian Jean Carlier dari PHIM dalam penyakit Sigatoka pada tanaman pisang.
Keduanya mengembangkan penelitian mengenai keragaman patogen jamur pada tanaman pisang, khususnya yang terdapat di Indonesia dan Banten.
Kolaborasi tersebut berawal dari pertemuan akademik pada 2024. Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi komunikasi penelitian hingga menghasilkan kerja sama melalui skema PHC Nusantara 2026.
Saat berkunjung ke Untirta, Jean Carlier berbagi pengalaman mengenai kolaborasi penelitian Indonesia-Prancis. Ia juga berdiskusi dengan peneliti dan sivitas akademika Untirta mengenai pengembangan riset patogen jamur pada tanaman pisang.
Nani berharap kerja sama tersebut tidak berhenti setelah penelitian PHC Nusantara 2026 selesai. Ia ingin kolaborasi dengan mitra Prancis berkembang ke berbagai bidang penelitian lainnya.
“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penelitian pisang, tetapi dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara peneliti Untirta dan mitra di Prancis,” ujarnya.
Melalui PHC Nusantara 2026, Untirfa terus memperkuat ekosistem riset yang terhubung dengan jaringan akademik internasional. Kampus juga mendorong lebih banyak peneliti membangun kolaborasi global untuk menghasilkan riset yang berdampak bagi ilmu pengetahuan, masyarakat, dan dunia industri. ***