
SERANG – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) terus mendorong peningkatan jumlah guru besar untuk memperkuat sumber daya manusia dan kapasitas akademik perguruan tinggi.
Wakil Rektor II Untirta Bidang Kepegawaian dan Umum, Prof. Asep Ridwan, mengatakan saat ini Untirta memiliki sekitar 60 guru besar. Jumlah tersebut masih separuh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 120 guru besar.
“Saat ini kita memiliki 60 guru besar. Idealnya sekitar 120,” kata Asep Ridwan dalam acara coffee morning bersama insan pers, di Untirta Sindangsari, Serang, Banten, Kamis (17/9/2026).
Menurut dia, kebutuhan guru besar harus dipersiapkan seiring dengan pertumbuhan jumlah dosen di Untirta. Karena itu, kampus melakukan pemetaan jabatan fungsional dosen di setiap unit kerja.
Pemetaan tersebut bertujuan mengidentifikasi dosen yang berpotensi meningkatkan jenjang jabatan fungsional, terutama dosen pada jenjang lektor dan lektor kepala yang dapat didorong menjadi guru besar.
“Jabatan fungsional di setiap unit kita petakan. Banyak yang berada pada jenjang lektor. Ini yang kita dorong untuk dipromosikan menjadi guru besar,” ujarnya.
Untirta juga menyiapkan pendampingan bagi dosen yang tengah mempersiapkan pengusulan jabatan guru besar. Salah satunya melalui coaching clinic yang membantu dosen memenuhi berbagai persyaratan pengusulan, termasuk persyaratan khusus publikasi ilmiah.
Asep mengatakan salah satu kendala yang dihadapi dosen adalah pemenuhan persyaratan publikasi pada jurnal bereputasi, termasuk jurnal dengan kategori Q2 dan Q3.
“Kita siapkan coaching clinic guru besar. Ada persyaratan khusus Q2 dan Q3 yang kadang membuat prosesnya terjeda. Ini yang kita bantu melalui pendampingan,” katanya.
Selain coaching clinic, Untirta menyiapkan program intensif atau super camp untuk membantu dosen menyelesaikan berbagai persyaratan menuju jabatan guru besar.
Langkah lain dilakukan dengan mendorong lebih banyak dosen menempuh pendidikan magister dan doktor. Program tersebut menjadi bagian dari strategi Untirta menyiapkan sumber daya manusia akademik sesuai dengan kebutuhan pengembangan bidang keilmuan.
Penguatan kualifikasi akademik tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan karier dosen menuju jabatan guru besar.
Di sisi kesejahteraan, Untirta turut mendorong peningkatan remunerasi bagi dosen. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat penghargaan terhadap kinerja akademik sekaligus mendorong produktivitas dosen.
“Remunerasi juga kita dorong untuk dinaikkan,” ujar Asep.
Dengan berbagai strategi tersebut, Untirta berupaya meningkatkan jumlah guru besar secara bertahap hingga mendekati kebutuhan ideal. Upaya itu dilakukan melalui pemetaan jabatan fungsional, pendampingan pengusulan guru besar, peningkatan kualifikasi pendidikan, kolaborasi akademik, serta penguatan kesejahteraan dosen. ***