
SERANG – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) mulai memperkuat ekosistem riset metalurgi berkelanjutan dengan menggandeng akademisi Indonesia yang berkiprah di perguruan tinggi luar negeri. Langkah tersebut menjadi bagian dari Program Hibah Diaspora Berdampak 2026 yang diarahkan untuk menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Untirta menggelar Kuliah Umum Program Hibah Diaspora Berdampak 2026 di Ruang Multimedia Convention Hall, Gedung Rektorat Lantai 1, Kampus Untirta Sindangsari, Senin (14/9/2026).
Program tersebut mengangkat tema “Pengembangan Ekosistem Metalurgi dan Pengolahan Sumber Daya Urban Berkelanjutan untuk Masa Depan Indonesia”. Topik ini menyoroti peluang pengembangan teknologi metalurgi, daur ulang logam, serta pengolahan sumber daya urban secara berkelanjutan.
Kepala LPPM Untirta, Prof. Dr. Meutia, S.E., M.P., mengatakan Program Hibah Diaspora Berdampak membuka ruang bagi Untirta untuk memperluas jejaring penelitian dengan akademisi Indonesia yang telah memiliki pengalaman di tingkat internasional.
“Program ini menjadi ruang untuk memperkuat jejaring antara peneliti Untirta dan akademisi Indonesia yang berkiprah di tingkat internasional,” ujarnya.
Menurut Meutia, kolaborasi tersebut juga penting untuk meningkatkan kesiapan dosen dan peneliti Untirta dalam menghadapi berbagai skema hibah penelitian. Peneliti dituntut mampu menyusun proposal dan menghasilkan penelitian yang memiliki dampak serta berpeluang masuk ke jurnal internasional bereputasi.
LPPM Untirta menargetkan kolaborasi dengan diaspora akademik tidak berhenti pada kegiatan kuliah umum. Kerja sama tersebut diharapkan berkembang menjadi penelitian bersama, publikasi internasional, serta pengembangan teknologi yang dapat memberikan manfaat bagi industri dan masyarakat.
Wakil Rektor Bidang Akademik Untirta, Dr. Rusmana mengatakan kuliah umum tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung dari akademisi yang memiliki pengalaman penelitian di tingkat internasional.
Ia mendorong mahasiswa agar tidak menjadikan pendidikan hanya sebagai sarana memperoleh nilai. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan bangsa.
“Orientasi pendidikan perlu bergeser dari sekadar memperoleh nilai menuju kontribusi nyata dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa melalui ilmu dan kemampuan masing-masing,” katanya.
Rusmana menilai kolaborasi dengan diaspora akademik menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas riset, inovasi, dan jejaring internasional Untirta.
Kuliah umum menghadirkan Prof. Muhammad Akbar Rhamdhani, profesor di Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia, sebagai narasumber. Abdul Aziz selaku Kepala Pusat Penelitian Material Maju, Energi dan Teknologi Hijau, memandu sesi paparan dan diskusi.
Rhamdhani membahas perkembangan metalurgi berkelanjutan dan teknologi daur ulang logam. Ia juga memaparkan praktik kolaborasi internasional dalam membangun ekosistem penelitian yang mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.
Agenda tersebut semakin strategis dengan seremoni pengusulan diaspora sebagai Adjunct Professor di Jurusan Teknik Metalurgi Untirta. Pengusulan ini menjadi bagian dari upaya kampus memperluas keterlibatan akademisi berpengalaman internasional dalam kegiatan akademik dan penelitian.
Melalui Program Hibah Diaspora Berdampak 2026, Untirta menargetkan terbentuknya kolaborasi riset yang menghasilkan lebih dari sekadar publikasi. Kampus mendorong penelitian yang dapat melahirkan inovasi, teknologi, dan solusi bagi pengembangan industri serta pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-45 Untirta. Kampus berharap penguatan jejaring diaspora dapat menjadi salah satu fondasi untuk meningkatkan daya saing riset Untirta di tingkat nasional maupun internasional. ***