
SERANG – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menjalin kerja sama dengan Fangchenggang Polytechnic School, Tiongkok, melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU), Senin (26/10/2026).
Kerja sama ini bertujuan memperkuat kolaborasi pendidikan vokasi, penelitian, pengembangan teknologi, serta hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri di Indonesia dan Tiongkok.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Untirta Alfirano, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Fadlullah, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FKIP Robby Zidny, Kepala Unit Penunjang Akademik Bahasa Udi Samanhudi, serta Ketua Tim Pokja Kerja Sama Okti Rachmawati.
Sementara itu, delegasi Tiongkok diwakili Principal Fangchenggang Polytechnic School Zhao Guobaou dan Yi Yan dari Kamar Dagang Industri Jiangxi yang turut mewakili perusahaan asal Jiangxi, Tiongkok, yang beroperasi di Indonesia.
Dalam sambutannya, Zhao Guobaou menyampaikan antusiasme atas kerja sama dengan Untirta. Ia berharap kemitraan tersebut dapat membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan teknologi, penelitian, pendidikan, dan peningkatan kualitas lulusan.
Wakil Rektor Untirta Alfirano menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Fangchenggang Polytechnic School dalam menjadikan Untirta sebagai mitra kerja sama.
Menurutnya, kemitraan internasional perlu menghasilkan program nyata yang memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan dunia industri.
Ia menjelaskan, Untirta yang berada di Provinsi Banten memiliki peluang untuk mengembangkan kolaborasi dengan industri, terutama dalam menyiapkan tenaga kerja terampil dan mengembangkan inovasi terapan.
Untirta juga mengusulkan sejumlah program prioritas, meliputi pertukaran mahasiswa dan dosen, kelas bersama, pengembangan riset terapan di bidang pangan, energi, dan lingkungan, serta pelatihan dan magang bagi dosen.
Selain itu, kedua institusi diharapkan dapat memperkuat hubungan dengan dunia industri di Banten dan Tiongkok agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan serta lulusan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja.
Alfirano menegaskan, penandatanganan MoU merupakan langkah awal untuk membangun kemitraan yang berkelanjutan. Untirta berharap kerja sama tersebut segera ditindaklanjuti melalui program konkret, termasuk pertukaran akademik, kolaborasi penelitian, dan pengembangan teknologi.
Sementara itu, Yi Yan menyoroti pentingnya hubungan antara perguruan tinggi dan sektor industri. Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat membantu menyelaraskan pendidikan dan pengembangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan.
Keterlibatan perwakilan dunia usaha dalam kerja sama ini juga membuka peluang pengembangan program yang menghubungkan pendidikan, penelitian, dan kebutuhan industri di Indonesia maupun Tiongkok.
Penandatanganan MoU menjadi fondasi bagi kedua institusi untuk mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan vokasi, riset terapan, pertukaran akademik, dan pengembangan teknologi.
Melalui kemitraan ini, Untirta berharap dapat memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan agar mampu menghadapi kebutuhan dunia kerja di tingkat global. **