Beranda Pendidikan Trem Uap Pernah Beroperasi di Kota Serang, Ini Jalurnya

Trem Uap Pernah Beroperasi di Kota Serang, Ini Jalurnya

Trem uap (Sumber: Commons Wikimedia)

SERANG – Tempo dulu, Kota Serang ternyata memiliki transportasi massal yang tak kalah dengan kota besar lain di era Kolonial. Laporan De Sumatra Post pada 23 Agustus 1902, sebuah perusahaan trem uap K.H.J. van Zijll de Jong mendapat izin operasional trayek trem uap yang menghubungkan antara beberapa lokasi di Kota Serang.

De Sumatra Post menyebut ada 4 trayek trem uap di Kota Serang setelah izin pembangunan jalur dan operasi trem yang digerakkan oleh tenaga uap tersebut. Keempat jalur itu untuk memudahkan masyarakat yang akan menuju pusat Kota Serang.

Jalur 1 dari Stasiun Serang sepanjang Pagantungan, Lontar dan Kebodjon (Kaujon?) hingga pos Serang;

Jalur 2 dari Serang (Kalran/Kaloran) panjang Tjigaboen (Cigabus) hingga Soyog

Jalur 3 dari Serang sepanjang Domba dan Torondol (Trondol) hingga Sukawana

Jalur 4 dari Serang (pos Lontar) sepanjang Legok, Palamunan hingga Kramatwatu.

Sebagai transportasi massal, trem menggantikan trem kuda yang dianggap tidak efisien dan efektif. Trem kuda dianggap lamban dan sering tercecer kotoran kuda di jalanan.

Peneliti dari Bantenologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin Banten Yadi Ahyadi menyebutkan moda transportasi trem kian marak setelah tersambung jalur kereta api Rangkasbitung – Cilegon/Merak untuk jalur transportasi produk lokal ke Jakarta.

Begitu juga moda transportasi di dalam Kota Serang selain mengangkut penumpang juga menjadi alat angkut hasil bumi dan ternak ke pasar-pasar tradisional. “Trayek Soyog – Pegantungan yang melintasi Kaloran Pena, Kaujon, Pegantungan itu trayek angkut masyarakat untuk industri perakitan emas seperti kalung, anting, gelang,” kata dia.

Sementara trayek Kramatwatu, Pelamunan hinga Kepandean lebih banyak mengangkut hasil bumi. “Sementara trayek Pegantungan, Domba itu untuk masyarakat dan hasil peternakan”.

Mengenai jalur trem dalam kota sendiri, Yadi menyebutkan sudah tertanam di bawah permukaan aspal. Jalur trem pernah ditemukan di daerah Pendopo Gubernur Banten di Jalan Brigjen Syam’un di kedalaman 60 hingga 1 meter di bawah permukaan aspal. (You/Red)