
CILEGON – Di sepanjang Jalan Lingkar Selatan (JLS) Cilegon, bangunan shelter berdiri muram. Atapnya mulai kusam, dindingnya dipenuhi debu, dan bangkunya tak lagi lengkap. Inilah jejak mimpi besar yang kini seperti sedang tertidur panjang: Sistem Angkutan Umum Massal (SAUM) Kota Cilegon.
Pada 2018, Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon sempat gegap gempita meluncurkan program SAUM, sebuah proyek yang digadang-gadang akan menjadi solusi atas kemacetan Kota Baja.
Anggaran sebesar Rp2,5 miliar pun digelontorkan. Angka yang tak kecil bagi kota dengan problem lalu lintas yang makin ruwet. Tapi, seperti banyak proyek mimpi lainnya, SAUM kini tinggal papan nama dan rangka shelter yang kesepian.
Bus Trans Cilegon Mandiri, yang seharusnya menjadi jantung dari program transportasi ini, terlihat terparkir rapi. Bukan di terminal, apalagi di jalan raya, melainkan di halaman kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cilegon. Lebih mirip properti museum daripada kendaraan umum.
“Bus itu sih jalan, kalau ada acara besar,” ujar seorang pegawai Dishub Cilegon yang enggan disebutkan namanya. “Tapi biasanya hanya dipakai ASN, bukan untuk warga biasa.”

Warga biasa? Barangkali hanya penonton dari kejauhan. Karena fasilitas yang dibangun dengan uang publik itu nyatanya belum pernah betul-betul untuk publik.
Saat dikonfirmasi soal nasib SAUM, Kepala Dinas Perhubungan Kota Cilegon, Heri Suheri memberi jawaban sependek harapan warga.
“Mau di-review pelaksanaannya. Insyaallah di bulan ini dimulai,” tulisnya melalui pesan WhatsApp, Rabu (6/8/2025).
Tanpa rincian, tanpa kejelasan. Review yang dimaksud entah akan mengarah pada kebangkitan proyek, atau hanya jadi lembaran studi kajian baru yang berakhir di rak perpustakaan dinas.
Waktu berjalan. Infrastruktur dibiarkan lapuk. Sementara itu, masyarakat Cilegon masih bergelut dengan kemacetan dan biaya transportasi yang tak menentu.
Dulu, SAUM dijanjikan akan menghadirkan peradaban transportasi baru. Hari ini, ia malah jadi simbol diamnya kebijakan. Di kota yang katanya ingin menjadi maju, shelter-shelter itu berdiri seperti tugu peringatan: bahwa mimpi transportasi massal bisa kandas, bahkan sebelum sempat berjalan.
Di luar sana, kota-kota berlomba membenahi angkutan umum, membangun sistem, memperkuat mobilitas warganya. Di Cilegon? Bus menganggur, shelter menganga, dan rakyat cuma bisa bertanya: kapan kita benar-benar diberi tumpangan?.
Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin