SERANG – Layanan Trans Banten Koridor 3 yang menghubungkan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Ciceri, Terminal Pakupatan, hingga Kampus Untirta Sindangsari diklaim menunjukkan tingkat pemanfaatan yang tinggi sejak mulai beroperasi pada 4 Oktober 2025.
Data Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mencatat, hingga 1 Agustus 2026, layanan transportasi publik gratis tersebut telah melayani 187.783 penumpang. Koridor ini beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.
Dominasi penumpang berasal dari kalangan mahasiswa. Jalur yang menghubungkan sejumlah kampus di Kota Serang membuat bus Trans Banten menjadi salah satu pilihan transportasi harian karena dinilai lebih hemat dibanding kendaraan pribadi maupun angkutan lainnya.
Cut Mutia Rahma (20), mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, mengaku keberadaan Trans Banten memudahkan perjalanan menuju kampus. Menurutnya, lokasi halte yang mudah dijangkau membuat biaya transportasi dapat ditekan.
“Rute yang dilalui melewati UIN, Untirta, dan kampus lainnya sehingga sangat membantu mobilitas mahasiswa,” ujarnya.
Kepadatan penumpang juga diakui sopir Trans Banten, Agus Suryono. Ia mengatakan bus dari Terminal Pakupatan menuju Untirta kerap penuh saat aktivitas perkuliahan berlangsung.
Dalam satu perjalanan, jumlah penumpang bahkan dapat mencapai sekitar 60 orang sehingga sebagian harus berdiri. Selain mahasiswa, layanan ini juga dimanfaatkan pegawai pemerintah, tenaga kesehatan di RSUD Banten, hingga masyarakat umum.
“Kalau akhir pekan, banyak keluarga yang memanfaatkan Trans Banten untuk bepergian di sekitar Kota Serang,” katanya.
Koridor 3 melintasi sejumlah pusat layanan publik dan kawasan pendidikan, di antaranya Polda Banten, BNN Provinsi Banten, KPU Provinsi Banten, BPBD Banten, Laboratorium Kesehatan Daerah, RSUD Banten, Untirta, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Universitas Banten Jaya, Poltekkes Kemenkes Banten, serta Universitas Bina Bangsa.
Besarnya jumlah penumpang dalam waktu kurang dari setahun menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap transportasi umum yang terintegrasi masih cukup tinggi. Tingkat okupansi yang padat, terutama pada jam kuliah, juga menjadi indikator perlunya evaluasi kapasitas armada maupun frekuensi perjalanan agar pelayanan tetap optimal.
Tim Redaksi
