Beranda Peristiwa Tolak Kenaikan BBM, Mahasiswa Banten Tuding Pemerintah Bebani Rakyat

Tolak Kenaikan BBM, Mahasiswa Banten Tuding Pemerintah Bebani Rakyat

Aksi teaterikal aktivis KMS'30 menolak kenaikan BBM di Ciceri Kota Serang. (Istimewa)

SERANG — Aktivis yang tergabung dalam Komunitas Soedirman 30 (KMS’30) menggelar aksi di depan Kampus 1 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Ciceri, Kota Serang, Selasa (31/3/2026). Mereka menolak rencana kenaikan harga BBM non-subsidi yang dinilai menekan ekonomi masyarakat.

Selain berorasi, massa juga mendirikan posko dan menggelar aksi teatrikal dengan menampilkan sosok presiden yang dianggap abai terhadap penderitaan rakyat kecil.

Koordinator aksi, Tarpi Setiawan, menilai kebijakan energi saat ini terlalu tunduk pada mekanisme pasar global sehingga berdampak langsung pada masyarakat.

“Harga Pertamax bisa tembus Rp17.850 per liter. Ini bukan sekadar angka, tapi beban nyata bagi rakyat,” tegas Tarpi.

Ia juga mengkritik komponen pajak dalam harga BBM, seperti PPN, yang dinilai semakin memperberat kondisi ekonomi masyarakat, terutama pasca Lebaran.

Menurut Tarpi, kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi mendorong lonjakan konsumsi BBM subsidi dan memicu antrean panjang di SPBU.

Ia juga mengingatkan adanya dampak berantai terhadap sektor pangan. Biaya distribusi diperkirakan meningkat, harga bahan pokok terdorong naik, dan daya beli masyarakat melemah.

“Masyarakat terus dipaksa menanggung beban kebijakan energi,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan empat tuntutan utama, yakni membatalkan kenaikan BBM, menghentikan liberalisasi harga energi, menghapus pajak dalam harga BBM, serta menjamin ketersediaan BBM subsidi tanpa antrean.

Meski sempat beredar kabar pemerintah menunda kenaikan harga BBM per 1 April 2026, mahasiswa menilai langkah tersebut hanya bersifat sementara untuk meredam gejolak.

Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd