MOMEN pembagian rapor sering kali menjadi saat yang mendebarkan, baik bagi anak maupun orang tua. Rapor kerap dipandang sebagai tolok ukur keberhasilan belajar, padahal sejatinya rapor adalah cerminan proses pendidikan anak dalam kurun waktu tertentu. Cara orang tua menyikapi rapor akan sangat memengaruhi kondisi emosional dan motivasi belajar anak ke depan.
Saat menerima rapor, orang tua sebaiknya mengelola emosi dan membuka hasil belajar anak dengan pikiran terbuka. Nilai yang tertulis bukanlah gambaran mutlak tentang kecerdasan atau masa depan anak. Setiap anak memiliki potensi dan keunikan masing-masing yang tidak selalu bisa diwakili oleh angka.
Sikap membandingkan nilai anak dengan teman sekelas, saudara, atau bahkan pengalaman masa kecil orang tua sebaiknya dihindari. Perbandingan semacam ini justru berpotensi menimbulkan tekanan psikologis, membuat anak merasa tidak cukup baik, dan menurunkan kepercayaan dirinya.
Langkah yang lebih bijak adalah mengajak anak berdialog secara santai. Orang tua dapat menanyakan pengalaman belajar anak selama satu semester, mata pelajaran yang paling disukai, serta kesulitan yang dihadapi. Komunikasi yang hangat akan membantu orang tua memahami kondisi anak secara lebih utuh.
Apresiasi terhadap usaha anak menjadi hal yang sangat penting. Pujian tidak harus selalu diberikan pada nilai tinggi, tetapi juga pada kerja keras, kedisiplinan, dan kemajuan sekecil apa pun. Penghargaan ini akan menumbuhkan motivasi belajar yang datang dari dalam diri anak, bukan karena takut dimarahi.
Jika terdapat nilai yang belum memuaskan, orang tua perlu menyikapinya dengan bahasa yang membangun. Alih-alih memarahi, orang tua dapat mengajak anak mencari solusi bersama, seperti mengatur ulang waktu belajar, mencoba metode belajar yang berbeda, atau berkonsultasi dengan guru.
Rapor juga dapat dijadikan sarana evaluasi bersama antara orang tua dan anak. Buatlah target yang realistis untuk semester berikutnya serta kesepakatan tentang bentuk dukungan yang akan diberikan orang tua di rumah. Dengan demikian, anak merasa didampingi, bukan dituntut.
Pada akhirnya, hal terpenting yang perlu dirasakan anak adalah kasih sayang tanpa syarat dari orang tuanya. Anak perlu diyakinkan bahwa cinta dan dukungan keluarga tidak bergantung pada angka di rapor. Lingkungan emosional yang aman akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan belajar di masa depan.
Tim Redaksi
